
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Istimewa)
JawaPos.com - Piala Dunia 2026 akan menghadirkan kembali aturan head to head sebagai salah satu penentu posisi klasemen fase grup. Aturan ini menjadi perhatian banyak penggemar sepak bola karena berbeda dengan edisi Piala Dunia 2022 yang lebih mengutamakan selisih gol keseluruhan.
Dalam regulasi resmi FIFA, apabila dua tim atau lebih mengakhiri fase grup dengan jumlah poin yang sama, penentuan peringkat tidak langsung melihat selisih gol dari seluruh pertandingan. FIFA terlebih dahulu menerapkan sejumlah kriteria khusus yang berfokus pada hasil pertandingan antartim yang memiliki poin identik.
Urutan kriteria yang digunakan FIFA dimulai dari jumlah poin yang diperoleh. Jika masih sama, penentuan berlanjut ke selisih gol dalam pertandingan antara tim-tim yang memiliki poin sama atau dikenal sebagai head to head.
Apabila masih belum bisa memisahkan posisi kedua tim, FIFA akan menghitung jumlah gol yang dicetak dalam pertandingan head to head tersebut. Jika hasilnya tetap identik, barulah perhitungan beralih ke seluruh pertandingan fase grup.
Setelah itu, FIFA akan melihat selisih gol keseluruhan selama fase grup. Jika masih sama, jumlah gol yang dicetak sepanjang fase grup menjadi penentu berikutnya.
Kriteria selanjutnya adalah poin fair play yang dihitung berdasarkan jumlah kartu kuning dan kartu merah yang diterima setiap tim selama turnamen berlangsung. Semakin sedikit pelanggaran yang dilakukan, semakin besar peluang tim tersebut unggul dalam klasemen.
Menariknya, FIFA kini juga telah menetapkan ranking FIFA sebagai kriteria terakhir apabila seluruh indikator sebelumnya masih menghasilkan nilai yang sama. Dengan demikian, metode pengundian atau pelemparan koin yang pernah digunakan pada masa lalu tidak lagi menjadi opsi penentuan posisi klasemen.
Sebagai gambaran, aturan head to head bisa membuat tim dengan selisih gol keseluruhan lebih rendah tetap berada di atas rivalnya. Misalnya, Senegal dan Norwegia sama-sama mengoleksi enam poin pada akhir fase grup. Walaupun Norwegia memiliki selisih gol total lebih baik, Senegal berhak menempati posisi lebih tinggi karena unggul dalam pertemuan langsung antara kedua tim.
Aturan semacam ini pernah diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Sementara itu, Piala Dunia 2006, 2010, 2014, dan 2022 menggunakan pendekatan yang lebih mengutamakan selisih gol keseluruhan sebelum melihat faktor lain.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
