
Bintang Afrika Didier Drogba kritik Amerika Serikat soal visa dan suporter Piala Dunia 2026. (Istimewa)
JawaPos.com - Mantan bintang sepak bola dunia Didier Drogba kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan pandangan terkait situasi jelang Piala Dunia FIFA 2026.
Dalam pernyataannya yang ramai dibicarakan, Didier Drogba menyinggung soal isu visa, pembatasan perjalanan, hingga nasib suporter dan ofisial pertandingan yang terdampak kebijakan non sepak bola.
Didier Drogba menegaskan, ketika sebuah negara mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah turnamen sebesar Piala Dunia, mereka juga harus siap dengan konsekuensi global yang menyertainya. Menurut dia, ajang tersebut bukan hanya milik satu negara, tetapi milik dunia.
Baca Juga:Gianni Infantino Buka Suara soal Wasit Somalia Ditolak AS, Singgung Wewenang Tuan Rumah Piala Dunia
Dia juga menyoroti kasus yang melibatkan seorang wasit asal Somalia Omar Artan yang disebut tidak bisa berpartisipasi setelah mengalami penolakan masuk. Padahal, menurut Didier Drogba, para ofisial seperti wasit dipilih berdasar kualitas dan prestasi, bukan latar belakang negara asal.
Selain itu, dia turut menyinggung kabar terkait federasi sepak bola Iran yang mengklaim adanya pengurangan kuota tiket suporter secara mendadak. Jika benar terjadi, Drogba menilai hal tersebut sangat merugikan penggemar biasa yang sudah jauh hari menabung demi bisa mendukung tim nasional mereka di turnamen terbesar dunia.
“Yang terdampak bukan politisi, tetapi para penggemar,” tandas Drogba.
Dia menekankan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang menyatukan banyak budaya, bukan justru terpecah karena kebijakan politik antar negara. Sebagai mantan pemain yang pernah tampil di level Piala Dunia, Drogba memahami betul atmosfer turnamen tersebut. Fans dari berbagai negara bisa berbagi stadion, jalanan, dan semangat yang sama tanpa sekat.
Menurut dia, FIFA bersama pemerintah dan pihak terkait harus mencari jalan tengah agar masalah seperti visa dan pembatasan perjalanan tidak lagi menjadi sorotan utama. Seharusnya fokus pada pertandingan, bukan konflik administratif.
Pernyataan Drogba ini memicu diskusi luas di kalangan penggemar sepak bola global. Banyak yang setuju bahwa Piala Dunia harus tetap menjadi ajang inklusif, sementara sebagian lainnya menilai isu politik dan keamanan tetap sulit dipisahkan dari event sebesar itu.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
