
lebih dari enam puluh orang berkumpul di MULA Learning Center, Kebayoran Lama, menata ulang gagasan tentang ke luar negeri. (Istimewa)
JawaPos.com–Mimpi meniti karir di luar negeri kini bukan lagi sesuatu yang mustahil. Seiring dengan terbukanya akses informasi, banyak anak muda Indonesia yang melirik peluang kerja internasional demi menambah pengalaman sekaligus memperluas jejaring global.
Di sebuah sore akhir September, lebih dari enam puluh orang berkumpul di MULA Learning Center, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, untuk menata ulang gagasan tentang ke luar negeri. Dari panggung itu muncul peta yang langkah-langkah kecil bisa mengantar seseorang menjadi bagian dari dunia yang luas.
Luar negeri bukan sekadar tempat tujuan, melainkan medan di mana bahasa, kebiasaan, dan pilihan hidup diuji dan ditata ulang. Jika anda sedang mencari jawaban yang tidak pernah diberikan siapapun, kamu perlu mendengarkan tips beberapa orang di Cetta Virtual Society (CVS) yang sudah memulai kehidupan di luar negeri.
Berikut adalah tips untuk mengejar karir dan hidup di luar negeri yang telah dirangkum dari pemaparan lima orang yang telah meraih checkpoint pencapaian hidup.
Michella Wijaya menempatkan bahasa sebagai kunci pembuka peluang. Pengalamannya menempuh S1, kursus Mandarin di Zhejiang, dan S2 di Tiongkok memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Yakni kemampuan berbahasa membuka akses ke jaringan, penelitian, dan pekerjaan yang tak terlihat dari ruang kelas semata.
”Langkah kecil yang berani hari ini bisa membuka pintu besar untuk masa depan,” ujar Michele Wijaya.
Michella mengingatkan bahwa bukan hanya kemampuan bahasa asing yang penting, tetapi pula pemahaman tentang arah pasar global. Tiongkok, misalnya, menjadi fokus karena pergeseran arus ekonomi global. Oleh karena itu, member CVS yang pernah berkuliah di Tiongkok ini memilih untuk meneruskan kariernya di Negeri Tirai Bambu.
Bila kamu ingin relevan di era saat ini, kamu harus kenali industri yang sedang bertumbuh dan temukan titik temu antara kemampuan dan kebutuhan pasar. Baik dari segi skill teknis maupun skill berbahasa asing.
Vickel berbicara dengan apa adanya. Dia menjelaskan bahwa bekerja dengan perusahaan Tiongkok bukan perkara fasih berbicara saja, tapi kamu harus kuat menghadapi ritme, logika, dan gaya kerja yang berbeda. Perbedaan jam kerja, ekspektasi, cara negosiasi, bahkan cara mengalah tanpa merasa kalah ketika bekerja di perusahaan asing.
Untuk mengatasinya, beberapa tips yang diberikan Vickel antara lain tingkatkan kemampuan bahasa, siapkan diri untuk perbedaan kultur, latihan komunikasi to the point, kendalikan perfeksionisme, dan jangan pernah berhenti belajar.
Dina Aulia (IT product owner) menceritakan kegugupannya saat menggunakan istilah teknis saat pertama kali bekerja dengan partner luar. Dari pengalamannya, ada empat kunci yang bikin percaya diri meningkat. Selalu pahami konteks, jangan takut minta pengulangan, fokus pada kejelasan bukan aksen, serta tetap profesional.
”Pede aja dulu, as long as mereka paham sama perkataanmu, itu udah lebih dari cukup!” jelas Dina.
Bagi Tantri yang tidak mengejar prestise, kerja ke luar negeri dia tafsirkan sebagai memberi dampak pada humanisme. Dan bekerja sebagai caregiver adalah bentuk pengabidan langsung kepada kemanusiaan itu sendiri.
Secara personal, dia ingin sekali berada di ruang kerja yang bersentuhan langsung dengan manusia. Hingga akhirnya keputusan itu membawanya ke Inggris dan menjalani pengalaman yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, menjadi seorang caregiver.
Adip, member CVS yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Jepang, tidak memulai perjalanannya dari formulir, tapi dari bahasa. Dia cerita bagaimana belajar bahasa Jepang sejak awal justru membuka jalan memahami sistem pendidikan dan peluang studi di sana.
