Bayan Ali Muhammad Hassan, mahasiswa baru Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang berasal dari Gaza, Palestina. (Humas UIII)
JawaPos.com - Pindah dari satu pengungsian ke pengungsian lain, hancur rumah hingga keluarga terluka akibat serang zionis Israel ke Gaza, Palestina. Itulah perjalanan berat yang mesti dilalui Bayan Ali Muhammad Hassan, pemuda asal Gaza yang kini berhasil kuliah magister di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok.
Sejak lahir di tanah para nabi itu tahun 1990, sejengkal pun Bayan tak keluar dari Gaza untuk mempertahankan tanah airnya yang dirongrong zionis Israel. Dari satu pengungsian ke pengungsian lain, ia bersama keluarganya terus mencari tempat aman.
Hingga saat serangan brutal zionis Israel ke Gaza pada 2024 lalu bersarang, meluluh lantakkan rumahnya di Jalan Annashr, Gaza Utara, pria yang akrab disapa Abu Ali itu mulai kehilangan pilihan.
Dalam serangan biadab itu tak hanya tempat tinggalnya yang hancur lebur, tapi juga kakaknya mengalami luka.
Ia akhirnya harus mengungsi dari Gaza Utara ke Gaza Selatan bersama keluarganya.
"Setelah itu, ketika merasa sulit berobat di Gaza, tidak ada obat, rumah sakit juga keterbatasan kemampuannya. Kemudian dia ikut (membawa-red) abangnya ke Mesir untuk berobat di sana," ujar Ibrahim, saudara Abu Ali yang berada di Indonesia menerjemahkan ucapannya, Kamis (18/9).
Baru di Mesir lah kakak Abu Ali mendapatkan tindakan medis akibat serangan Israel hingga sembuh. Di sana, ia terpaksa meninggalkan keluarganya. Satu istri dan lima anak.
Pria yang sebelumnya berkuliah strata satu di Universitas Al-Azhar Gaza itu pun mencoba mencari beasiswa pendidikan untuk kelangsungan impiannya yang tak pudar.
"Dia pilih Indonesia tujuannya karena saya ada di situ juga," kata Ibrahim.
Melalui tangan Ibrahim lah Abu Ali akhirnya bisa berangkat ke Indonesia dan mendapatkan beasiswa pendidikan di UIII. Ia yakin bahwa kesempatan menempuh pendidikan tak pernah disia-siakan orang Gaza, termasuk Abu Ali.
"Karena alhamdulillah biasanya orang Gaza suka belajar sampai S1, 2, 3, sampai profesor Insya Allah," pungkasnya.
Kini, Abu Ali dapat sedikit bernapas lega meskipun ada napas yang terasa kurang, karena keluarganya masih berada di Gaza dalam kondisi yang kurang segalanya.
Sebelumnya, dalam sela upacara penyambutan mahasiswa baru di UIII Abu Ali menyampaikan bahwa pendidikan bukan sekadar cita-cita pribadi, melainkan juga tali harapan. Datang dari Gaza, Palestina, sebuah tempat di mana kehidupan sehari-hari terinspirasi dengan perjuangan dan inspirasi, ia memilih untuk menempuh mimpinya di UIII.
Saat ini, dia resmi terdaftar di Fakultas Studi Islam, Program Magister Takhassus Turath (Kajian Islam Klasik).

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
