Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 September 2025 | 17.18 WIB

Ketidakberpikiran adalah Monster atas Kesenjangan dan Situasi Bangsa

Muhammad Nur Rizal selaku Pendiri GSM dalam Ngkaji Pendidikan di Tangerang Selatan. (Istimewa) - Image

Muhammad Nur Rizal selaku Pendiri GSM dalam Ngkaji Pendidikan di Tangerang Selatan. (Istimewa)

JawaPos.com - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kembali menggelar kegiatan refleksi pendidikan bertajuk Ngkaji Pendidikan pada Sabtu (30/8). Acara yang dihadiri oleh 650 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini, mengajak para guru untuk merenungkan arah pendidikan di tengah derasnya arus digital dan kecerdasan buatan (AI) yang kian mendominasi kehidupan, sekaligus mencari jalan agar pendidikan Indonesia tetap memerdekakan pikiran dan menjaga masa depan bangsa.

Isu utama yang menjadi sorotan ialah bahaya ketidakberpikiran, yaitu sebuah kondisi ketika manusia terjebak dalam rutinitas tanpa jeda untuk refleksi, sekadar mengikuti alur birokrasi dan algoritma digital. Menurut GSM, fenomena ini kian berbahaya karena berpotensi menumpulkan nalar kritis, mengikis imajinasi moral, dan menjauhkan manusia dari kesejatian dirinya.

“Waktu kita banyak tersita oleh algoritma, oleh rutinitas administratif, tetapi justru sedikit sekali untuk perkara yang penting, yakni, berpikir, berdialog dengan nurani, dan memelihara imajinasi,” ungkap Muhammad Nur Rizal selaku Pendiri GSM dalam keterangan tertulis yang diterima.

Fenomena ketidakberpikiran ini bukan hanya terjadi di sekolah, tetapi juga tampak dalam kehidupan sosial dan politik. Di publik misalnya, kita kerap dibuat geram oleh perilaku wakil rakyat, mulai dari mengusulkan kenaikan tunjangan dan pajak di tengah sulitnya ekonomi rakyat, korupsi yang makin merajalela, komentar serta sikap arogan yang menunjukkan kemewahan atau kekuasaan kelas atas sampai menyakiti perasaan rakyat di bawah, hingga aksi aparat yang justru melukai rasa keadilan dengan tindakan represif sampai menimbulkan kematian.

Di sisi lain, kesenjangan sosial-ekonomi masih menganga, yaitu lapangan kerja yang terbatas, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan akses pendidikan yang belum merata menjadi tanda bahwa bangsa ini menghadapi tantangan serius.

Dalam konteks itu, GSM mengingatkan bahwa pendidikan harus menjadi benteng peradaban yang tidak sekadar menyiapkan keterampilan teknis, melainkan melahirkan manusia yang mampu berpikir merdeka, berimajinasi moral, dan bertindak autentik.

“Jika guru hanya mengajukan pertanyaan sebatas apa yang tercantum di buku teks atau kurikulum, melarang murid yang mempertanyakan keadaan karena dianggap mengganggu alur pelajaran, maka murid hanya akan tumbuh menjadi pengikut, bukan pencipta. Padahal bangsa ini membutuhkan generasi yang autentik, berani, dan visioner,” ujarnya.

Di tengah krisis sosial dan politik, guru tetap memiliki energi moral untuk menyalakan cahaya harapan. Melalui imajinasi moral dan keberanian autentik, mereka menjadi benteng agar generasi muda Indonesia tumbuh sebagai manusia merdeka yang siap menjawab tantangan zaman.

Di hadapan ratusan guru, Rizal melontarkan sebuah pertanyaan reflektif yang menusuk, “Adanya oknum-oknum yang menyebabkan masalah di bangsa Indonesia, jangan-jangan itu semua warisan kita sebagai pendidik, ketika kita tidak menanamkan keberpikiran dan hilangnya kesejatian diri.”

“Pendidikan bukan semata-mata soal kurikulum atau pencapaian akademik, melainkan soal membentuk manusia yang bertauhid dan berperikemanusiaan, agar memiliki arah hidup, rasa empati kepada sosial dan lingkungan alam serta daya cipta. Bila sekolah justru menumbuhkan ketaatan buta pada aturan maka lahirlah generasi yang kehilangan nurani,” tambahnya.

Ia menyinggung kembali pelajaran tragis dari sejarah kisah Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang dalam Eichmann in Jerusalem (1961) digambarkan Hannah Arendt sebagai manusia biasa yang taat dan saleh, tetapi gagal berdialog dengan batinnya. Ia menjadi mesin genosida, bukan karena kebencian mendalam, melainkan karena ketidakberpikiran yang membuatnya sekadar menjalankan perintah tanpa refleksi moral (olah roso).

“Ketidakberpikiran itu monster. Ia bisa lahir di ruang kelas ketika guru hanya mengulang rutinitas, atau di birokrasi ketika aparat terjebak hierarki tanpa makna. Jika dibiarkan, ia akan  menghancurkan masa depan murid-murid kita,” tegas Rizal.

Kritik juga diarahkan oleh Rizal terhadap birokrat pendidikan, “Menggenggam hierarki dan prosedur tanpa makna itu bahaya. Ketaatan buta membuat kita semua terjebak menyerahkan tanggung jawab berpikir pada aturan, mematikan perasaan, kreativitas serta terjebak pada ilusi moralitas pada kepatuhan yang bisa saja tidak adil pada murid atau guru. Bapak-ibu dinas dan pengawas seharusnya membuka ruang dialog, bukan sekadar ruang perintah.” 

Rizal lalu menekankan bahwa belajar adalah tindakan moral. Ketika guru tidak mengajak muridnya berpikir, berimajinasi, dan berefleksi, maka sesungguhnya mereka keluar dari ranah moralitas, meski semua itu dilakukan atas nama kurikulum. “Apakah itu merdeka yang diharapkan Soekarno dan Hatta?” tanyanya secara retoris.

Sebagai jalan keluar, Rizal mengajukan dua fondasi, yaitu dialog batin dan imajinasi moral. Dialog batin mengajarkan manusia untuk mempertanyakan diri, tentang benar atau tidaknya sebuah tindakan. Sementara imajinasi moral mengajak guru melihat dunia dari perspektif murid, sehingga penghargaan terhadap anak tidak lagi diukur sekadar dari angka rapor.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore