Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 April 2025 | 15.42 WIB

Survei KPK: Budaya Nyontek Masih Tinggi di Kampus dan Sekolahan, SPI Pendidikan 2024 Anjlok

 

Ilustrasi ujian. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap tren mengkhawatirkan dalam sektor pendidikan. Nilai Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 merosot dari 73,7 pada 2023 menjadi hanya 69,5. Indeks yang digarap dengan melibatkan hampir 450 ribu responden dari 36.888 satuan pendidikan ini menunjukkan budaya menyontek dan ketidakdisiplinan masih menjadi persoalan serius.

Data KPK menunjukkan bahwa praktik menyontek terjadi di 78 persen sekolah dan bahkan di 98 persen kampus. Tak hanya itu, sebanyak 43 persen siswa dan 58 persen mahasiswa mengaku masih melakukan praktik curang ini. Plagiarisme juga masih marak, ditemukan pada 43 persen kampus dan 6 persen sekolah.

Tak kalah memprihatinkan, ketidakdisiplinan menjadi bagian dari budaya harian di dunia pendidikan. Survei mencatat 84 persen mahasiswa dan 45 persen siswa kerap datang terlambat. Bahkan perilaku tersebut menular ke para pendidik. Sebanyak 96 persen mahasiswa menyatakan dosennya kerap terlambat, sementara 69 persen siswa menyebut hal serupa terjadi pada guru mereka.

Lebih dari itu, 96 persen kampus dan 64 persen sekolah melaporkan adanya dosen atau guru yang tidak hadir mengajar tanpa alasan jelas. Temuan ini menimbulkan keprihatinan mendalam dari Ketua KPK Setyo Budiyanto.

“Indeks ini bukan sekadar angka. Kalau angka ini kita acuhkan, kita biarkan saja, maka bisa menjadi sebuah malapetaka,” tegas Setyo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/4).

Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengaku siap melakukan pembenahan sistem. Ia menyoroti bahwa sistem pendidikan Indonesia masih terlalu menitikberatkan pada capaian nilai akademik semata.

“Kami berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning mulai tahun ajaran 2025-2026, agar siswa tidak hanya memahami sesuatu di level kognitif, tapi juga menjadikannya nilai hidup,” jelas Mu’ti.

Langkah ini akan diperkuat lewat pelatihan guru dan penguatan bimbingan konseling di sekolah. Pemerintah berharap pendekatan ini dapat membentuk generasi yang lebih berintegritas, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan berperilaku etis di dalam maupun di luar ruang kelas.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore