
Ilustrasi UN. Kemendikbud telah merilis jadwal pelaksanaan UN 2018 untuk jejang SMA dan SMP. UN bakal dimulai pada 2 April 2018
JawaPos.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) menerapkan High Order Thinking Skill (HOTS) di Ujian Nasional mulai tahun ini. Sehingga, tingkat kesulitan soal dinaikkan hingga 10 persen.
Bukan malah menuai pujian, usaha Kemendikbud malah mendapat kritikan pedas dari semua pihak termasuk peserta ujian. Menanggapi hal ini, Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno pun menjelaskan mengenai HOTS.
"HOTS itu bahasa indonesianya penalaran ya, bolehlah dikasih kata tingkat tinggi. Tetapi, esensi pendidikan itu ya memang mengembangkan dan menumbuhkan daya nalar," ujar Totok saat ditemui JawaPos.com di kantor Kemendikbud, Jakarta, (2/5).
Menurutnya, jika selama ini guru hanya menyampaikan Informasi yang ditelan mentah-mentah oleh murid. Sehingga, murid diuji dari informasi tadi dan mengisi sesuai yang disampaikan guru itu tidak mendorong esensi pendidikan yang sesungguhnya.
"Oleh karena itu, secara bertahap dalam UN ini ditambahkan soal-soal yang mendorong anak belajar mengembangkan daya nalarnya. HOTS bukan barang baru banget, sejak Ki Hadjar Dewantara juga sudah ada," jelas Totok.
Dirinya menekankan anak perlu dikembangkan intelektualitasnya sehingga tidak sekedar menerima pengetahuan yang didapat. Tetapi bisa memaknai informasi, menganalisa bahkan menyaring informasi tersebut.
"Memaknai informasi itu dimanfaatkan untuk memecahkan masalah dalam persoalan kehidupannya. Yang nalarnya tinggi menerima informasi nggak nelan informasi mentah-mentah," tegasnya.
Dirinya memaklumi jika istilah HOTS baru, namun awal proses pendidikan memang sudah mengajarkan proses penalaran. Jadi, jika masih ada sekolah dan guru yang menyuapi siswa dengan informasi itu yang harus diubah.
"Semoga UN bisa mendorong proses pembelajaran dengan penalaran. Yang seharusnya dari dulu kurikulum 1994-2016 seharusnya sudah bernalar, jadi tidak tiba-tiba," kata Kalitbang ini.
"Hanya saja istilah hots yang baru kedengaran saja. Makanya saya lebih senang menggunakan daya nalar," lanjutnya.
Dalam penerapan Hots, Totok memang melihat salah salah satu kuncinya ada di pembenahan guru. Karena peningkatan proses pembelajaran untuk bisa menjamin itu butuh kompetensi guru yang baik.
"Makanya mudah-mudahan UN ini bisa betul-betul menjadi cermin jujur yang menggambarkan apa adanya, dan masing-masing pihak menanggapi dengan kepala dinginlah, tidak usah emosi dan marah," harapnya.
Totok menyampaikan untuk perbaikan ke depan, Kemendikbud akan mengeluarkan diagonis setiap sekolah seperti apa saja hal yang kurang. Dirinya akan memetakan semua hal kekurangan untuk dibenahi satu persatu.
"Bertahaplah, karena ujian-ujian seperti juga butuh PISA penalaran. Kita harus menyiapkan, kalau siswa bilang nggak bisa ya sama-sama belajar dan diajar. Kita akan benahi ke depan kekurangannya," pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
