
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB Eduart Wolok. (mia/ Jawa Pos)
JawaPos.com – Tak heran bila hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan di Indonesia turun drastis. Kondisi ini turut terpotret dalam pelaksanaan ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) pada seleksi nasional berbasis tes (SNBT) masuk perguruan tinggi negeri (PTN) 2025. Sejumlah peserta masih menghalalkan segala cara untuk bisa lolos seleksi.
Dari catatan tim panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), sejak hari pertama hingga hari keenam atau sesi pertama hingga sesi keduabelas pelaksanaan UTBK-SNBT, terdeteksi sebanyak 50 peserta yang melakukan kecurangan di 13 pusat UTBK. Yang mana, dalam aksinya tersebut, ada yang melibatkan joki hingga orang dalam di pusat UTBK setempat. (lihat grafis)
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB Eduart Wolok menyayangkan aksi kecurangan yang masih terjadi. Terlebih, di tahun ini, dinamika kecurangan ini jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. “Pada hari pertama banyak dinamika terjadi terkait upaya pencurian soal,” ujarnya dalam konferensi pers terkait kecurangan dalam UTBK-SNBT 2025 dari Sesi 1-12 di Jakarta, Selasa (29/4).
Upaya pencurian soal ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memfoto layar komputer dengan perangkat yang disembunyikan, merecord desktop PC peserta dengan memasang aplikasi record pada PC peserta, hingga melakukan remote desktop PC peserta dengan memasang aplikasi remote dan perangkat lain sebagai proxy agar bisa komunikasi ke jaringan luar.
“Ini juga di Undip (Universitas Diponegoro, red). Kamera dipasang di ciput. Ciput kerudung. Transmitternya di kuncir rambut, kemudian alat bantu dengarnya dipasang ke telinga sekecil-kecil itu. Gak bisa tuh dicabut dengan tangan langsung, harus pakai alat bantu. Sampai seperti itu (modusnya, red),” ungkapnya.
Rektor Universitas Negeri Gorontalo ini pun menegaskan, bahwa cara-cara tersebut tak akan bisa membocorkan soal ujian. Karena, pihaknya telah menyiapkan jumlah soal melebihi jumlah sesi yang akan diujikan. Belum lagi, bank soal tersebut penyimpanannya tidak terkoneksi dengan internet.
Lalu, bagaimana dengan maraknya soal yang dipublish di media sosial? Eduart menyampaikan, bahwa kalau pun ada soal yang sama itu hanya sekadar jembatan soal untuk standarisasi mutu soal. Bahkan, di kasus-kasus tertentu, jembatan soal tersebut tidak dinilai oleh tim panitia.
Penemuan kasus di Universitas Negeri Sumatera Utara (USU) lebih mencengangkan. Ditemukan adanya kecurangan dengan pemasangan kamera di kacamata peserta. Kamera dipasang di kedua sisi lensa. Gilanya lagi, di balik kamera dipasang pula mikrofon untuk berkomunikasi dengan joki yang disewa. Joki tersebut diketahui berada di sebuah hotel untuk membantu mengerjakan soal-soal yang ada.
“Kalau sekecil ini kan hampir tidak bisa terdeteksi. Lalu terdeteksinya dari mana? Dari peserta di sebelahnya. Jadi dia melaporkan ke pengawas karena mendengar ada yang bisik-bisik. Mungkin karena tidak jelas jawabannya jadi harus berulang kali bertanya,” jelasnya. Sejauh ini, 7 orang joki tertangkap tangan dalam aksi ini. Mereka melakukan perjokian terhadap 30 peserta.
Eduart melanjutkan, dari semua kasus kecurangan tersebut ternyata mayoritas dilakukan oleh mereka yang memilih program studi fakultas kedokteran. Mereka diketahui telah membayar uang muka tertentu untuk bisa dibantu dalam ujian. Setelah lolos, mereka akan kembali menambah bayaran bagi para joki ini.
“Terus terang, kami juga heran. KOk ada yang memasang kamera di behel, di ciput. Untuk apa semua ini? Padahal, kami menyelenggarakan tes ini bukan untuk kami tapi untuk anak-anak dengan harapan mendapat calon-calon yang baik dengan cara yang baik,” ungkapnya.
Diakuinya, terungkapnya kasus-kasus ini sejatinya sudah diantisipasi sejak awal. Pihaknya menemukan sekitar 4000 nama peserta anomali. Nama-nama tersebut kemudian disebar sesuai dengan tujuan pusat UTBK-nya. Sehingga, sejak sebelum tes dimulai, para panitia sudah melakukan pengawasan secara ketat.
Bahkan, lanjut dia, di salah satu pusat UTBK, sempat dipanggil secara random nama yang masuk daftar anomali tersebut. Peserta diketahui langsung kabur. Di hari-hari selanjutnya, nama-nama lainnya yang masuk list anomali di pusat UTBK yang sama seketika tak mengikuti tes di sana.
Ketua Majelis Rektor PTN (MRPTN) ini pun memastikan akan menindak tegas semua pihak yang terlibat. Tak ada lagi kompromi atas kecurangan yang dilakukan. Pihaknya akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Kemudian, peserta yang tertangkap tangan melakukan kecurangan akan didiskualifikasi dan diblacklist untuk masuk PTN.
“Kami akan koordinasi dengan seluruh rektor PTN. Untuk berapa lamanya (diblacklist, red), masih harus kita diskusikan lebih lanjut karena kami juga tidak ingin gegabah,” tegasnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
