Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Maret 2025 | 23.54 WIB

Angkat Nilai Jual Pepaya Sisa Panen, Mahasiswa PCU Olah Jadi Wine, Alkoholnya di Atas 10 Persen 

Mahasiswa Hotel Management Petra Christian University Cleary Budiman (kiri) dan Davin Varian Ikwanto Koean saat memperlihatkan proses pembuatan wine dari pepaya. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

Mahasiswa Hotel Management Petra Christian University Cleary Budiman (kiri) dan Davin Varian Ikwanto Koean saat memperlihatkan proses pembuatan wine dari pepaya. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com – Selama ini minuman wine dikenal terbuat dari anggur. Apa jadinya jika wine itu berasal dari buah pepaya? Lalu berapa persen kandungan alkoholnya?

Inovasi wine dari pepaya ini dicoba digarap oleh dua mahasiswa Hotel Management Petra Christian University. Mereka adalah Cleary Budiman dan Davin Varian Ikwanto Koean. Mereka mengolah buah pepaya Bangkok menjadi wine.

Pepaya bangkok itu merupakan kelebihan panen di Desa Sugihwaras, Kediri. Dengan diolah jadi wine berharap pepaya memiliki nilai jual lebih tinggi.

Sugihwaras merupakan desa yang berada di kaki Gunung Kelud. Desa itu dikenal sebagai daerah penghasil pepaya dengan tanah vulkanik subur. Namun, saat panen melimpah, harga pepaya sering anjlok. Petani pun rugi.

Dari fenomena itu, Cleary dan Davin mencari cara agar Pepaya Bangkok bisa diolah menjadi produk bernilai lebih.

Kenapa pepaya Bangkok?

Davin menjelaskan, mereka telah mencoba beberapa jenis pepaya, seperti California dan Hawaii. Namun, pepaya Bangkok terbukti paling cocok karena rasa manisnya seimbang dan tingkat keasamannya rendah. "Teksturnya juga lebih baik untuk fermentasi," ucapnya.

Dalam proses pembuatannya, pepaya dikupas, dibuang bijinya, lalu diblender dengan air. Setelah disaring, campuran ini ditambahkan gula pasir dan ragi Saccharomyces cerevisiae untuk fermentasi. Proses ini berlangsung selama 14 hari, lalu wine dipisahkan dari endapannya dan didiamkan lagi selama seminggu sebelum siap dikonsumsi.

“Wine ini punya aroma lebih halus dengan kadar alkohol sekitar 12 persen, sesuai standar wine komersial,” kata Davin.

Untuk memastikan kualitasnya, mereka telah menguji produk ini dengan sommelier dari beberapa hotel di Surabaya, serta melalui uji laboratorium. Wine ini akan dipasarkan dengan nama Ababi, yang diambil dari bahasa Karibia, berarti “pepaya.” Nama ini juga terinspirasi dari sebutan Christopher Columbus yang menyebut pepaya sebagai fruit of the angel.

Saat ini, merek Ababi sedang dalam proses pematenan. Harga jualnya diperkirakan Rp 150.000 per botol ukuran 750 ml.

Dosen pembimbing mereka, Hanjaya Siaputra, menyebut inovasi ini bagian dari kerja sama dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Sugihwaras. Sebelumnya, mereka telah mengembangkan wine dari nanas sebagai alternatif anggur perjamuan.

Ke depan, Cleary dan Davin berencana memperluas produksi dan menggandeng petani di Bali untuk memasok wine ini ke restoran-restoran wisatawan asing. “Wine dari pepaya ini bisa bertahan bertahun-tahun dan cocok untuk bahan dasar cocktail,” ujar Hanjaya.

Cleary berharap inovasi ini bisa membuka peluang baru bagi petani. “Kalau masyarakat bisa mengolah sendiri, hasil panen berlebih bisa jadi sumber pendapatan tambahan,” katanya.

Dengan kreativitas ini, siapa sangka pepaya yang sering dianggap buah biasa bisa menjadi minuman berkelas.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore