Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Juli 2024 | 18.28 WIB

Mendapat Gaji Besar di Hongkong, Mahasiswa Magang Indonesia Enggan Berkarir di Tanah Air

Konjen RI untuk Hongkong dan Makau Yul  Edison didampingi Vice President of BINUS Higher Education & Professional Services Harjanto Prabowo di Hongkong, Jumat (28/6). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM) - Image

Konjen RI untuk Hongkong dan Makau Yul Edison didampingi Vice President of BINUS Higher Education & Professional Services Harjanto Prabowo di Hongkong, Jumat (28/6). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)

JawaPos.com - Mahasiswa program studi kepariwisataan memilih Hongkong sebagai tempat tujuan magang atau intership dalam penyelesaian masa studinya. Umumnya mahasiswa kepariwisataan itu magang di perhotelan Hongkong.

Kendati berstatus magang, mereka diperlakukan seperti pekerja profesional. Mahasiswa magang mendapat upah atau uang saku. Bahkan nilainya cukup tinggi dan bisa untuk hidup. "Ketika mereka sudah lulus dari perguruan tinggi asalnya, tidak sedikit mahasiswa magang itu mau berkarir di Tanah Air," ujar Konjen RI untuk Hongkong-Makau Yul Edison saat ditemui JawaPos.com akhir Juni lalu.

Yul Edison mengatakan, jumlah wisatawan asal Indonesia yang masuk ke Hongkong setiap bulannya berkisar seribu hingga 1.500 orang. Banyaknya jumlah wisatawan asal Indonesia ke Hongkong karena biaya transportasi cukup murah dari maskapai asal Hongkong, seperti Cathay Pacific. Padahal pariwisata di Hongkong tidak terlalu lebih baik dari Indonesia.

Selain berwisata, warga negera Indonesia (WNI) yang datang ke Hongkong ada untuk bekerja dan belajar. Untuk belajar umumnya, pertukaran pelajar, magang, dan memang memilih studi di Hongkong. Apalagi di Hongkong terdapat lima perguruan tinggi yang memiliki kualitas tinggi tingkat dunia. Sebut saja The University of Hong Kong (HKU), The Chinese University of Hong Kong (CUHK), The Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), The Hong Kong Polytechnic University (PolyU, dan City University of Hong Kong (CITYU).

Sementara untuk mahasiswa asal Indonesia yang memang kuliah di Tanah Air, mereka ke Hongkong umumnya untuk mengikuti pertukaran pelajaran, pendidikan program double degree, dan magang. Untuk mahasiswa magang mereka umumnya dari program studi kepariwisataan. Umumnya mereka berkarya di perhotelan. "Di sini mendapatkan pengalaman lebih. Tidak hanya sekadar nilai, tetapi diperlakukan seperti pekerja perhotel profesional dan mendapat upah seperti pegawai lainnya," ujar Yul Edison.

Tak jarang, kata diplomat yang lama bertugas di Meksiko itu, mereka setelah wisuda di perguruan tinggi asalnya di Tanah Air kembali ke Hongkong. Sebab, mahasiswa magang itu mendapatkan tawaran kerja langsung dan mendapat upah standar Hongkong.

Untuk pekerja formal di Hongkong nilai upah standar mereka jika dikonversikan ke kurs rupiah, mereka mendapat minimal Rp 15 juta per bulan. "Itu untuk pekerja baru. Jika pengalamannya bagus, kinerja bagus bisa mereka mendapat Rp 25 juta per bulan," ujar Konjen berdarah Minang itu.

Yul mendapat informasi bahwa beberapa perhotelan mengeluhkan para lulusan pariwisata di Indonesia tidak mau berkarya di Tanah Air. Padahal perhotelan di Indonesia lagi tumbuh dan membutuhkan tenaga terampil.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore