Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Agustus 2022 | 01.02 WIB

Kurikulum Merdeka, Kini Guru Bisa Bebas Pilih Perangkat Bahan Ajar

SEMANGAT BELAJAR: Guru memberikan materi di ruang kelas SDN Ketintang 1 pekan lalu. Dinas Pendidikan Surabaya akan memberlakukan aturan baru PTM dengan kapasitas 25 persen. (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

SEMANGAT BELAJAR: Guru memberikan materi di ruang kelas SDN Ketintang 1 pekan lalu. Dinas Pendidikan Surabaya akan memberlakukan aturan baru PTM dengan kapasitas 25 persen. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sedang menggulirkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum baru tersebut masih dijalankan secara bertahap dan terbatas di beberapa sekolah.

Data Kemendikbudristek menyebutkan, jumlah sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka sudah mencapai 143.265 unit. Implementasi terbanyak ada di jenjang SD, yaitu berjumlah 84.034 unit. Disusul di jenjang PAUD 24.159 unit, dan jenjang SMP ada 18.938 sekolah.

Kemendikbudristek menetapkan ada tiga jalur bagi sekolah yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka. Yaitu, Jalur Mandiri Belajar, Jalur Berubah, dan Jalur Berbagi.

Untuk implementasi Jalur Mandiri, Kurikulum Merdeka diterapkan untuk PAUD (usia 5-6 tahun), Kelas I SD, Kelas IV SD, Kelas VII SMP, dan Kelas X SMA.

Dengan implementasi Kurikulum Merdeka itu, Kepala SMP Negeri 2 Singosari Bambang Dwi Yudo Leksono sangat mengapresiasi. "Lewat Kurikulum Merdeka, guru dapat memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran bisa sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik," kata Bambang dalam kegiatan Gerakan Transformasi Edukasi (Generasi) Trakindo SMP pada Kamis (25/8).

Bambang menjelaskan, implementasi Kurikulum Merdeka oleh sekolah diarahkan untuk mencapai kompetensi peserta didik. Termasuk dalam kondisi khusus. Dia mencontohkan Pandemi Covid-19 merupakan salah satu kondisi khusus. Pada kondisi pandemi, membuat munculnya fenomena ketertinggalan pembelajaran (learning loss) berbeda-beda pada ketercapaian kompetensi peserta didik.

"Untuk mengatasi learning loss sekolah memerlukan pemulihan pembelajaran," kata dia.

Bambang menyambut baik peran Gerakan Generasi Trakindo membantu sekolah mempercepat pemulihan dan membangun standardisasi yang setara antar sekolah dan antara peserta didik.

Chief Administration Officer Trakindo Yulia Yasmina mengatakan implementasi Kurikulum Merdeka butuh kerjasama banyak sektor. "Di antaranya sektor usaha," kata dia. Yulia menyampaikan apresiasi terhadap Kurikulum Merdeka. Sebab bertujuan menciptakan siswa Indonesia yang memiliki kompetensi unggul sesuai tantangan di masa depan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore