
Gus Ipul bersama petani difabel Lamongan, Qomaruzzaman
JawaPos.com-- Calon gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf memanen melon bersama petani difabel di Desa Sendangharjo, Brondong, Lamongan, Jumat (20/4). Pada kesempatan pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menyampaikan beberapa gagasan dan konsep soal pertanian modern.
Salah seorang petani difabel bernama Qamaruzzaman, 30 mengaku sangat gembira bisa bertemu dengan Gus Ipul. Kesempatan itu tak disia-siakannya untuk bertukar pikiran.
Begitu pula dengan Gus Ipul. Saking kagumnya dengan perjuangan Qomar (sapaan akrab Qomaruzzin, red), Gus Ipul memintanya untuk menceritakan keberhasilannya membudidayakan melon golden di tengah keterbatasan fisiknya. "Kerja mulai jam berapa?" tanya Gus Ipul.
Qomar menjawab, dirinya bertani mulai pukul 07.00-17.00. Dia juga menceritakan, sebagian besar pekerjaan di sawah dikerjakannya sendiri. Dimulai dari penyiapan lahan, penyiangan, pengairan hingga pemanenan. Kecuali untuk penyemprotan pestisida, dia mempekerjakan orang lain.
Dalam kesempatan ini, Gus Ipul juga sempat melihat secara langsung bagaimana Qomar menggunting dahan pohon yang tak lagi produktif. Qomar tidak memakai tangannya, tapi dengan kaki. Dengan lincah dan cekatan, kaki Qomar menjangkau dahan-dahan yang terbilang sulit. Sebab tingginya sekitar kepala orang dewasa. "Selama ada kemauan pasti bisa," ujar Qomar dengan nada optimis.
Gus Ipul menilai, sosok Qomar menjadi inspirasi bagi para petani, khususnya petani muda. Bagaimana dengan keterbatasannya tetap mampu membudidayakan melon. Pria asal Pasuruan itu mengungkapkan, bahwa menanam melon memiliki risiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya.
Dalam kesempatan ini, Gus Ipul juga mengenalkan konspep 'corperate farming'. Caranya, gapoktan-gapoktan yang ada dikumpulkan menjadi satu. Disiapkan model pertanian yang modern dengan menghadirkan teknologi pertanian yang maju. Sehingga tidak lagi mengandalkan subsidi bibit, pupuk dan lain sebagainya. Sementara untuk lahannya dihitung sebagai sewa, tenaganya dihitung tiap harinya.
Bila panen tiba, dijualnya tidak berbentuk beras. Melainkan sudah diolah dengan teknologi yang diperbantukan tersebut. Mulai dari tahapan pemanasan, dan hasil akhirnya berbentuk beras premium dalam kemasan. "Bendaharanya dari perbankan dan pemasukan para petani diterima dengan hitungannya jelas," papar Gus Ipul.
Konsep ini dinilai sangat sesuai, apalagi tidak setiap petani memiliki lahan pertanian. Menurut dia, idealnya kepemilikan lahan tiap orang, rata-rata 0,5 hektar. Namun realitanya, hanya 0,2 hingga 0,3 hektar saja per petani. "Bila benar terealisasi, pendapatan petani bisa bertambah hingga 50 persen," terang cagub nomor urut 2 tersebut. (did/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
