Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 20.09 WIB

Jangan Tunggu Terlambat, Ini 5 Cara Orang Tua Membangun Kembali Kedekatan dengan Anak

Ilustrasi seseorang yang kurang dekat dengan anak yang telah dewasa - Image

Ilustrasi seseorang yang kurang dekat dengan anak yang telah dewasa

JawaPos.com – Hubungan antara orang tua dan anak dapat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Ketika anak beranjak dewasa, perbedaan pandangan, pengalaman masa lalu, atau persoalan yang belum terselesaikan terkadang membuat komunikasi perlahan berjarak.

Situasi tersebut bisa terasa berat bagi kedua pihak. Orang tua mungkin merasa kehilangan kedekatan dengan anak, sementara anak dewasa bisa memilih menjaga jarak karena masih membawa kekecewaan atau luka dari masa lalu.

Meski demikian, hubungan yang renggang tidak selalu berarti berakhir selamanya. Kedekatan masih mungkin dibangun kembali apabila orang tua bersedia melakukan pendekatan dengan tulus, sabar, dan tanpa memaksakan kehendak.

Prosesnya memang tidak selalu cepat. Kepercayaan yang pernah hilang membutuhkan waktu untuk kembali tumbuh, terutama jika konflik berlangsung selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua apabila ingin membuka kembali hubungan dengan anak mereka yang telah dewasa.

1. Berani Mengakui Kesalahan

Langkah awal yang tidak mudah adalah mengakui bahwa orang tua juga mungkin pernah melakukan kesalahan.

Dalam hubungan yang penuh konflik, keinginan untuk membela diri sering kali muncul secara spontan. Namun, penjelasan panjang atau usaha membenarkan tindakan masa lalu justru dapat membuat anak merasa pengalamannya tidak dihargai.

Mengakui kesalahan tidak berarti orang tua harus menyalahkan diri sendiri atas segala hal. Sikap tersebut lebih menunjukkan kesediaan untuk bertanggung jawab terhadap tindakan yang memang pernah menimbulkan luka.

Permintaan maaf yang tulus juga sebaiknya tidak disertai tuntutan agar anak segera memaafkan. Berikan kesempatan kepada anak untuk memproses perasaannya dengan caranya sendiri.

2. Dengarkan Cerita Anak Tanpa Langsung Membantah

Ketika anak dewasa akhirnya bersedia berbicara mengenai pengalaman masa lalu, berusahalah menjadi pendengar terlebih dahulu.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore