
seseorang yang membuat putrinya merasa bersalah./Freepik/shurkin_son
JawaPos.com - Hubungan antara ibu dan anak perempuan sering menjadi salah satu hubungan emosional paling kuat dalam kehidupan seseorang. Ketika ibu memasuki usia lanjut dan anak perempuan telah dewasa—bahkan mungkin sudah memiliki keluarga sendiri—dinamika hubungan ini bisa berubah.
Dalam banyak kasus, perubahan ini memunculkan perasaan bersalah, terbebani, atau konflik emosional pada anak perempuan. Psikologi keluarga menjelaskan bahwa hal ini sering terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena perubahan peran, kebutuhan emosional, dan ketakutan akan kehilangan.
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat tujuh perilaku yang sering muncul pada ibu yang sudah lanjut usia yang secara tidak sadar dapat membuat putri dewasa merasa bersalah.
1. Mengingatkan Pengorbanan Masa Lalu Secara Berulang
Beberapa ibu sering mengingatkan anak tentang semua pengorbanan yang telah mereka lakukan.
Contohnya seperti mengatakan:
“Ibu dulu kerja keras demi kamu.”
“Ibu mengorbankan banyak hal supaya kamu bisa sekolah.”
Secara psikologis, ini disebut emotional reminder of sacrifice. Walaupun tujuannya mungkin untuk menunjukkan kasih sayang atau sejarah perjuangan keluarga, bagi anak perempuan yang sudah dewasa hal ini bisa terasa seperti hutang emosional yang tidak pernah lunas.
Akibatnya, anak perempuan bisa merasa:
selalu harus membalas
tidak pernah cukup berbakti
bersalah ketika memilih hidup sendiri
2. Menggunakan Kalimat yang Memancing Rasa Kasihan
Contoh kalimat seperti:
“Ibu ini cuma sendiri sekarang.”
“Nanti kalau ibu sudah tidak ada, kamu baru menyesal.”
Dalam psikologi hubungan keluarga, pola ini sering disebut guilt-inducing communication.
Banyak ibu tidak menyadari bahwa kalimat seperti ini membuat anak merasa:
tertekan
takut mengecewakan
bersalah jika tidak selalu hadir
Padahal sebenarnya ibu mungkin hanya sedang mengekspresikan kesepian atau kebutuhan akan perhatian.
3. Sulit Menerima Batasan Anak yang Sudah Dewasa
Ketika anak perempuan sudah dewasa, ia biasanya memiliki:
pekerjaan
pasangan
anak
tanggung jawab sendiri
Namun beberapa ibu sulit menerima perubahan ini dan tetap berharap anak selalu tersedia.
Psikologi perkembangan menyebut ini sebagai role transition difficulty—kesulitan menerima perubahan peran dalam keluarga.
Akibatnya anak perempuan sering merasa bersalah ketika:
tidak bisa datang setiap saat
tidak selalu menjawab telepon
tidak menuruti semua keinginan ibu.
4. Membandingkan dengan Anak Orang Lain
Kalimat seperti:
“Anaknya Bu Ani tiap minggu datang.”
“Teman ibu diurus anaknya dengan baik.”
Perbandingan seperti ini bisa memicu shame dan guilt pada anak perempuan.
Menurut psikologi sosial, perbandingan ini sering menciptakan internal pressure pada anak, karena ia merasa tidak cukup baik sebagai anak.
5. Mengorbankan Diri Secara Berlebihan
Ada ibu yang berkata:
“Tidak usah, ibu tidak mau merepotkan kamu.”
“Ibu makan seadanya saja.”
Namun di balik kalimat tersebut ada nada pengorbanan yang kuat.
Psikologi keluarga menyebut ini martyr pattern (pola pengorbanan diri).
Anak perempuan sering menangkap pesan implisit bahwa mereka tidak cukup peduli, sehingga muncul rasa bersalah yang mendalam.
6. Menolak Bantuan Tetapi Tetap Mengeluh
Fenomena ini cukup umum pada lansia.
Misalnya:
menolak tinggal bersama anak
menolak bantuan
tetapi sering mengeluh kesepian atau kesulitan
Dalam psikologi, ini bisa terkait dengan keinginan mempertahankan kemandirian sekaligus kebutuhan akan perhatian.
Bagi anak perempuan, situasi ini sangat membingungkan karena mereka merasa:
ingin membantu
tetapi juga merasa bersalah karena dianggap tidak cukup membantu.
7. Mengaitkan Kebahagiaan Ibu Sepenuhnya dengan Anak
Kalimat seperti:
“Kebahagiaan ibu cuma kamu.”
“Kalau kamu sibuk, ibu tidak punya siapa-siapa.”
Walaupun terdengar penuh kasih, ini bisa menciptakan beban emosional besar bagi anak perempuan.
Psikologi menyebutnya emotional dependency, yaitu ketika kesejahteraan emosional seseorang terlalu bergantung pada orang lain.
Akibatnya anak perempuan bisa merasa:
bertanggung jawab atas kebahagiaan ibu
takut mengecewakan
sulit menjalani hidupnya sendiri.
Penting Dipahami: Ini Bukan Tentang Menyalahkan Ibu
Sebagian besar perilaku di atas tidak muncul karena niat buruk.
Banyak ibu lanjut usia mengalami:
kesepian
kehilangan pasangan
perubahan identitas setelah anak dewasa
ketakutan akan ditinggalkan
penurunan kesehatan
Dalam psikologi penuaan, fase ini sering disebut late-life emotional vulnerability.
Karena itu penting bagi anak perempuan untuk memahami dua hal sekaligus:
Empati terhadap ibu
Menjaga batas emosional yang sehat
Hubungan yang sehat bukan berarti selalu menuruti semua hal, tetapi menemukan keseimbangan antara berbakti dan menjaga kesehatan emosional diri sendiri.
Kesimpulan
Hubungan ibu dan anak perempuan adalah hubungan yang kompleks dan penuh emosi. Beberapa perilaku ibu yang sudah lanjut usia—seperti mengingatkan pengorbanan, memancing rasa kasihan, atau menggantungkan kebahagiaan pada anak—dapat membuat putri dewasa merasa bersalah.
