
ilustrasi seorang pria paruh baya yang sedang duduk sendiri, mencerminkan ketabahan dan keengganan untuk berbagi emosi. (Freepik)
JawaPos.com - Melihat ayah yang sudah berusia di atas 70 tahun dan masih sulit mengungkapkan perasaan bisa jadi membingungkan bagi anak-anak.
Jika ayahmu cenderung tertutup ketika membahas emosi, kemungkinan besar ia dibesarkan dengan serangkaian kepercayaan yang tidak terucapkan mengenai maskulinitas.
Lingkungan tumbuh kembang di masa lalu menanamkan nilai-nilai yang berbeda, di mana bagi pria satu di antara ekspresi emosi seringkali dianggap "tidak jantan,".
Melansir dari Global English Editing, memahami akar keyakinan diam ini membantu kita menjembatani kesenjangan empati antar-generasi dengan lebih bijaksana dan alami.
1. Emosi adalah Tanda Kelemahan yang Harus Dihindari
Pria dari generasi ini sering tumbuh dengan aturan tidak tertulis bahwa "pria sejati" tidak boleh menangis atau menunjukkan kerentanan di depan umum. Mereka seolah diberi buku aturan sejak lahir yang melarang adanya emosi negatif dan menekan setiap perasaan. Jika ayah terlihat membangun benteng yang kokoh di sekitar perasaannya, itu bukan berarti ia tidak memiliki emosi di dalamnya. Itu terjadi karena ia telah dikondisikan sejak kecil untuk percaya bahwa emosi adalah celah di dalam perisai dirinya.
2. Kerentanan Disamakan dengan Kegagalan
Di era ayah tumbuh besar, menunjukkan kerentanan tidak hanya dipandang negatif, tetapi juga secara langsung disamakan dengan kegagalan yang memalukan. Seorang ayah yang klasik dalam hal ini adalah sosok yang sedikit bicara dan sangat jarang sekali menunjukkan air mata atau kesedihan. Ketika sang anak gagal dalam ujian penting dan mencari kenyamanan, yang didapat justru respons tegas untuk "menguatkan diri" dan tidak cengeng. Keyakinan terinternalisasi ini membuat ayah merasa tidak nyaman dengan kerentanan yang ia miliki, bahkan juga kerentanan yang ditunjukkan oleh anaknya.
3. Diam Adalah Emas dan Keheningan Menunjukkan Kekuatan
Ada masa di mana keheningan mulai dikaitkan dengan kekuatan, ketenangan, dan kekukuhan, terutama di kalangan para pria. Pahlawan pendiam yang suka menyendiri dan merenung menjadi arketipe yang dikagumi dan ditiru oleh banyak orang di era itu. Pria diajarkan bahwa membicarakan perasaan adalah obrolan tidak penting, dan sikap diam adalah pilihan yang jauh lebih baik untuk menjaga kedamaian. Ekspresi emosional, khususnya yang negatif, seringkali dilihat sebagai gangguan terhadap ketenangan yang wajib mereka jaga.
4. Mengandalkan Diri Sendiri adalah Kunci Kesuksesan
Ayah dibesarkan di masa perubahan dunia yang cepat, di mana kemandirian menjadi keterampilan bertahan hidup yang sangat penting dan wajib dimiliki. Mereka diajarkan bahwa untuk berhasil, seseorang harus independen, mampu memecahkan masalah sendiri, dan memikul beban tanpa bantuan orang lain. Bagi pria di generasi tersebut, meminta bantuan diartikan sebagai pengakuan kegagalan dan pukulan telak terhadap harga diri yang sudah dibentuk susah payah. Jika ayah sangat gigih melakukan segalanya sendirian, ingatlah bahwa ia berasal dari lingkungan yang tidak hanya mendorong, tetapi juga menuntut kemandirian penuh.
5. Mentalitas 'Telan Saja' Adalah Mantra Utama
Frasa 'telan saja' *(suck it up) merupakan mantra umum bagi generasi ayah yang menyiratkan pesan blak-blakan untuk mengatasi perasaan tanpa mengeluh. Ini adalah cerminan dari era di mana pria diharapkan untuk memaksakan diri melewati rasa sakit tanpa perlu berkeluh kesah. Sikap ini muncul bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia memang tidak tahu cara menunjukkan perhatian dengan cara yang diharapkan oleh anaknya. Mereka harus menekan dan melewati rasa sakit tanpa komplain karena itu adalah bagian dari permainan hidup yang harus dijalani.
6. Menghindari Emosi adalah Bentuk Pertahanan Diri
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022