Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 12.38 WIB

Tanpa Disadari 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Dapat Menghancurkan Rasa Percaya Diri Anak, Simak Ulasannya!

Ilustrasi hal yang menghancurkan rasa percaya diri anak (freepik)


JawaPos.com - Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh cinta, pengorbanan, dan pembelajaran.

Namun, tanpa disadari, ada kebiasaan kecil yang sering dilakukan demi kebaikan anak, tetapi justru memberi luka emosional yang membekas hingga dewasa.

Niat baik saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan kesadaran, empati, dan pemahaman akan kebutuhan emosional anak.

Baca Juga: Jangan Remehkan Hal Sepele, Kebiasaan Kecil Ini Bisa Membentuk Suasana Hati dan Kesehatan Mentalmu

Banyak orang tua mengira bahwa cara mereka mendidik sudah tepat, padahal beberapa ucapan atau tindakan bisa diam-diam merusak kepercayaan diri anak.

Artikel ini akan membahas 7 kebiasaan orang tua yang sering dianggap wajar, tetapi sebenarnya berpotensi menghambat tumbuh kembang anak.

Lebih dari itu, Anda juga akan menemukan solusi praktis agar bisa memperbaiki pola asuh dengan lebih bijak dirangkum dari YouTube Parenting Hacks.

Baca Juga: Menjaga Pesona Setelah 40, Mengapa Mereka Berani Meninggalkan 7 Kebiasaan Harian Ini?

1. Mengabaikan Emosi Anak

Sering kali orang tua berkata, "Tidak perlu menangis" atau "Kamu terlalu sensitif," tanpa sadar sedang menolak perasaan anak.

Kebiasaan ini membuat anak merasa bahwa emosinya tidak penting, bahkan salah untuk dirasakan.

Dampaknya, anak tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengekspresikan perasaan, cenderung cemas, dan menutup diri.

Mengabaikan emosi anak sama dengan menanamkan keyakinan bahwa perasaan mereka tidak valid.

Hal ini bisa memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang, termasuk kesulitan membangun hubungan sehat di masa depan.

Anak mungkin tampak kuat di luar, tetapi di dalamnya menyimpan luka karena tidak pernah benar-benar didengar.

Solusinya adalah validasi, bukan penolakan. Katakan, "Ibu tahu kamu sedang sedih. Ceritakan, ya."

Dengan begitu, anak belajar bahwa emosinya wajar dan dapat dipahami.

Validasi membantu anak tumbuh dengan percaya diri, merasa aman, dan tahu bahwa dirinya berharga.

2. Menggunakan Rasa Malu sebagai Motivasi

Kata-kata seperti "Kamu malas sekali" atau "Kenapa tidak bisa seperti saudaramu?" mungkin dimaksudkan untuk mendorong anak agar lebih baik.

Namun kenyataannya, rasa malu hanya menyerang identitas anak, bukan perilakunya.

Akibatnya, anak merasa dirinya tidak pernah cukup baik, meski sudah berusaha keras.

Rasa malu yang terus-menerus dialami anak akan menggerogoti harga dirinya.

Mereka bisa tumbuh dengan perasaan rendah diri, takut gagal, bahkan sulit mengambil keputusan karena selalu dihantui standar orang lain.

Pola ini bisa terbawa hingga dewasa dan menghambat kebebasan dalam menjalani hidup.

Sebagai gantinya, fokuslah pada perilaku, bukan pribadi anak.

Katakan, "Tugasnya belum selesai, yuk kita cari cara agar besok bisa lebih baik."

Dengan cara ini, anak belajar bahwa kesalahan tidak menjadikan dirinya buruk, melainkan bagian dari proses belajar.

3. Memberi Pujian Berlebihan dan Labeling

Banyak orang tua bangga menyebut anaknya "pintar" atau "jenius."

Sekilas tampak positif, tetapi pujian berlebihan justru bisa menjadi jebakan.

Anak yang terlalu sering dilabeli "terbaik" akan merasa tertekan untuk selalu sempurna, sehingga takut mencoba hal baru yang berisiko gagal.

Pujian yang salah sasaran dapat membentuk anak yang rapuh terhadap kegagalan.

Alih-alih tumbuh berani, mereka cenderung menghindari tantangan agar tidak kehilangan citra yang diberikan orang tuanya.

Hal ini menghambat perkembangan mental dan keberanian anak untuk bereksperimen.

Solusinya adalah memuji usaha, bukan hasil.

Katakan, "Kamu berusaha keras dan tidak menyerah, itu hebat."

Dengan begitu, anak belajar bahwa kerja keras lebih penting daripada hasil instan.

Mereka pun tumbuh dengan pola pikir berkembang, siap menghadapi tantangan dengan percaya diri.

4. Selalu Menyelamatkan Anak dari Kesulitan

Banyak orang tua merasa sayang dengan cara selalu menolong anak saat kesulitan.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, anak tidak belajar mandiri.

Mereka tumbuh bergantung pada orang lain dan kehilangan kesempatan untuk melatih ketangguhan diri.

Ketika anak terlalu sering diselamatkan, mereka akan sulit menghadapi tantangan hidup.

Kegagalan kecil justru menjadi pengalaman penting untuk membangun keteguhan hati.

Tanpa pengalaman itu, anak bisa menjadi cemas, takut mencoba, dan kurang percaya diri.

Berikan anak kesempatan untuk berjuang. Katakan, "Coba dulu, Ibu percaya kamu bisa."

Dengan dukungan penuh namun tanpa intervensi berlebihan, anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran.

Dari sini tumbuh rasa percaya diri sejati yang datang dari pengalaman pribadi.

5. Tidak Hadir Secara Emosional

Kehadiran fisik orang tua tidak selalu berarti hadir secara emosional.

Anak yang sering mendapati orang tuanya sibuk dengan pekerjaan atau ponsel bisa merasa diabaikan.

Walau kecil, perasaan ditinggalkan ini dapat menimbulkan luka batin yang membekas.

Ketika orang tua tidak hadir secara emosional, anak merasa sendiri meski berada di rumah yang penuh orang.

Kondisi ini bisa menimbulkan kesulitan dalam membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap orang lain.

Rasa kesepian yang dialami sejak kecil juga bisa terbawa hingga dewasa.

Solusinya adalah menciptakan ritual sederhana untuk berhubungan dengan anak.

Sisihkan waktu 10–15 menit setiap hari untuk benar-benar hadir, tanpa distraksi.

Ajukan pertanyaan ringan, seperti "Apa bagian favoritmu hari ini?"

Momen kecil seperti ini menumbuhkan rasa aman dan memperkuat ikatan emosional.

6. Menuntut Kepatuhan Tanpa Pemahaman

Ucapan "Pokoknya ikuti saja!" atau "Jangan membantah!" mungkin membuat anak patuh seketika, tetapi tidak membangun kesadaran.

Kepatuhan buta hanya melatih anak untuk tunduk tanpa berpikir, bukan memahami nilai di balik aturan.

Jika anak selalu dipaksa patuh, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit berpikir kritis.

Mereka terbiasa menerima perintah tanpa mempertanyakan, bahkan ketika perintah itu tidak sehat atau merugikan.

Hal ini bisa terbawa hingga dewasa dan berisiko menjerumuskan mereka dalam hubungan yang tidak sehat.

Daripada memaksa, ajak anak berdiskusi. Katakan, "Aturan ini penting karena bisa melindungimu.

Bagaimana menurutmu?" Dengan cara ini, anak belajar menghargai aturan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Hubungan orang tua dan anak pun terbangun atas dasar rasa saling menghormati.

7. Memaksakan Rasa Takut dan Kegagalan Pribadi

Orang tua yang berkata, "Jangan ulangi kesalahan saya" atau "Ini satu-satunya jalan yang benar" sebenarnya sedang memaksakan rasa takut mereka pada anak.

Alih-alih mendukung, anak justru merasa dikekang dan kehilangan kebebasan untuk menemukan jati dirinya.

Anak yang tumbuh dengan beban ketakutan orang tua sering kali kesulitan mengenali keinginannya sendiri.

Mereka lebih sibuk memenuhi harapan yang bukan miliknya, hingga merasa hidupnya bukan untuk dirinya.

Hal ini dapat memengaruhi kesehatan emosional dan kebahagiaan anak.

Solusinya adalah menyadari luka pribadi dan tidak mewariskannya pada anak.

Katakan, "Aku percaya dengan jalan yang kamu pilih, dan aku akan mendukungmu."

Dengan cara ini, anak tumbuh menjadi pribadi yang merdeka, berani mengambil keputusan, dan mampu menjalani hidup sesuai jati dirinya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore