Ilustrasi anak dan orang tua. (Photo by Photo By: Kaboompics.com)
JawaPos.com - Disiplin bukan semata-mata soal membuat anak taat terhadap aturan. Lebih dari itu, disiplin merupakan proses belajar yang membantu anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, dan memiliki rasa empati terhadap orang lain.
Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mulai mengajarkan disiplin? Berdasarkan informasi dari laman Alodokter, masa kanak-kanak khususnya di usia dini adalah waktu yang paling baik untuk mulai menanamkan nilai-nilai disiplin. Pada usia tersebut, otak anak sedang berkembang sangat cepat dan mulai terbiasa dengan rutinitas serta interaksi sosial. Maka dari itu, apa yang ditanamkan sejak kecil akan membekas kuat hingga mereka tumbuh dewasa.
Disiplin yang ditanamkan secara konsisten akan membantu anak memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hal ini diperkuat oleh laman Hellosehat, yang menyebutkan bahwa anak usia 6 sampai 9 tahun sedang berada dalam fase mengenali aturan dan batasan. Di tahap ini, mereka mulai belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Dengan disiplin, anak juga akan belajar mengatur waktu dengan lebih baik. Mereka tahu kapan waktunya bermain, belajar, atau beristirahat. Tak hanya itu, anak yang terbiasa dengan aturan akan merasa lebih aman dan percaya diri. Mereka paham apa yang diharapkan dari mereka dan bagaimana cara bersikap di lingkungan sekitarnya, baik di sekolah, rumah, maupun tempat umum.
Disiplin tidak harus berarti memberi hukuman yang keras. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua menjelaskan batasan dan memberikan pemahaman mengenai konsekuensi dari suatu tindakan. Disiplin yang sehat justru mengajarkan anak bahwa setiap keputusan yang diambil membawa dampak, baik itu positif maupun negatif.
Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dicoba dalam kehidupan sehari-hari.
1. Hindari Kekerasan dalam Mendisiplinkan Anak
Kekerasan bukan jalan terbaik untuk mengajarkan disiplin. Anak akan meniru apa yang orang tua lakukan, termasuk cara menghadapi emosi.
Jika Anda memakai kekerasan, anak belajar bahwa itu cara berkomunikasi ketika marah, sehingga disiplin yang diharapkan justru sulit tercapai.
Anak yang dibesarkan tanpa kekerasan cenderung lebih respect pada aturan dan tahu mana yang benar dan salah.
2. Buat Jadwal Kegiatan yang Jelas dan Seru
Ajak anak membuat jadwal rutinitas harian yang sederhana mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali.
Sertai jadwal dengan waktu yang jelas supaya anak belajar mengatur waktu dan tahu kapan harus melakukan sesuatu.
Membuat jadwal bersama dengan alat tulis favorit anak akan membuat proses ini lebih menyenangkan. Tempelkan jadwal di tempat yang mudah dilihatnya supaya selalu ingat.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
