Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 04.38 WIB

Tidak Sekadar Lucu-lucuan Saja, Ini 7 Bahaya Menjadikan Anak Sebagai Influencer di Media Sosial!

Ilustrasi influencer anak. (Pexels) - Image

Ilustrasi influencer anak. (Pexels)

 

JawaPos.com - Di dunia dengan kamjuan teknologi sekarang ini, hampir semua orang tentu memiliki media sosial. Baik itu anak-anak bahkan sampai orang paruh baya sekalipun, mereka bisa memiliki media sosial untuk berbagai keperluan.

Sebagai orang yang familiar di media sosial, kamu tentu tahu istilah influencer yang ada di berbagai media sosial. Sebagaimana namanya, influencer adalah sosok terkenal yang bisa mempengaruhi orang lain dalam melakukan sesuatu.

Baik itu membeli suatu barang dari perusahaan tertentu, menggiring opini atas sesuatu, dan masih banyak lagi bisa dilakukan oleh influencer yang memiliki audiens cukup besar. Namun, tahukah kamu bahwa tidak hanya orang dewasa yang bisa menjadi influencer?

Kamu mungkin pernah melihat anak kecil yang lucu menjadi sosok influencer terkenal yang juga membuat konten produk, kemitraan berbayar, dan masih banyak lagi. Hal ini disebut dengan istilah influencer anak atau kidfluencer.

Tentunya ada bahaya tersendiri menjadikan anak sebagai influencer di media sosial. Dikutip dari The Conversation, The Week dan Psychologs, berikut ini merupakan 7 bahaya menjadikan anak sebagai influencer di media sosial:

1. Tidak Adanya Privasi

Bahaya pertama dari menjadikan anak sebagai influencer di media sosial adalah tidak adanya privasi. Ketika seseorang menjadi influencer, maka bagian-bagian dari hidupnya akan diunggah ke internet untuk ditonton oleh audiens. 

Seseorang bisa membagikan hal-hal seperti tanggal lahir, sekolah tempat ia belajar, tempat tinggal dan masih banyak lagi. Hal ini bisa berbahaya apabila informasi tersebut jatuh ke tangan orang dengan niat tidak baik.

2. Kemungkinan Eksploitasi

Bahaya kedua dari menjadikan anak sebagai influencer di media sosial adalah adanya kemungkinan eksploitasi. Konten yang dibuat oleh orangtua atau manajer tidak semuanya berupa konten alami dari keseharian seorang anak.

Anak bisa dipaksa untuk memeragakan hal tertentu, menggunakan baju tertentu, dan mengatakan hal tertentu demi audiens atau promosi. Hal ini tentunya membuat sang anak tidak lagi bisa bebas berekspresi seperti anak pada umumnya.

3. Terlalu Fokus Penampilan

Bahaya ketiga dari menjadikan anak sebagai influencer di media sosial adalah anak jadi terlalu fokus pada penampilan. Sebagai seorang influencer, mereka perlu mengenakan penampilan terbaik untuk bisa diterima audiens.

Hal ini bisa berefek pada anak kecil yang fokus pada baju yang mereka pakai, model rambut dan masih banyak lagi. Hal ini tentu salah karena anak-anak seharusnya tidak begitu memperdulikan penampilan dan mengenakan apapun yang mereka inginkan asal nyaman.

4. Risiko Terpapar Pedofil

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore