Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Juli 2025 | 00.30 WIB

Orang yang Hanya Mengunjungi Orang Tuanya Satu atau Dua Kali dalam Setahun Biasanya Memiliki 10 Pengalaman Masa Kecil Ini Menurut Psikologi

seseorang yang jarang mengunjungi orang tua. (Freepik/thannaree) - Image

seseorang yang jarang mengunjungi orang tua. (Freepik/thannaree)


JawaPos.com - Seiring dengan bertambahnya usia, hubungan dengan orang tua dapat mengalami berbagai perubahan. 
 
Beberapa tetap dekat dan berkomunikasi setiap minggu, sementara yang lain hanya melakukan kunjungan satu atau dua kali dalam setahun. 
 
Bagi sebagian individu, jarangnya kunjungan tidak hanya diakibatkan oleh jarak atau kesibukan, tetapi juga lebih dalam dari itu—dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil yang membentuk cara pandang dan reaksi mereka terhadap hubungan keluarga.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (11/7), berdasarkan perspektif psikologi perkembangan dan hubungan interpersonal, orang-orang yang jarang mengunjungi orang tua di masa dewasa seringkali membawa jejak emosional dari masa kecil yang memengaruhi tindakan mereka. 
 
Berikut adalah 10 pengalaman masa kecil yang umum pada mereka:

1. Dibesarkan di Lingkungan yang Minim Ekspresi Emosional

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan suasana emosional yang tegang, di mana kasih sayang jarang terlihat atau bahkan dianggap sebagai kelemahan, cenderung tumbuh menjadi orang yang menjaga jarak emosional. 
 
Setelah dewasa, mereka merasa tidak memiliki ikatan yang kuat untuk merindukan pertemuan dengan orang tua.

2. Sering Menjadi Korban Kritik Berlebihan

Orang tua yang senantiasa mengkritik, mengoreksi, atau membandingkan anak dengan orang lain dapat membuat anak merasa tidak berharga. 
 
Pada akhirnya, ketika mereka dewasa, kecenderungan untuk menjaga jarak meningkat sebagai cara untuk melindungi diri dari luka emosional yang mungkin kembali muncul saat berada di dekat orang tua.

3. Kurangnya Pengakuan Emosional

Anak-anak yang sering kali merasa bahwa perasaan mereka diabaikan atau tidak dianggap serius (misalnya saat mereka merasa sedih atau marah, justru disuruh untuk diam), biasanya tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa canggung untuk membagikan perasaan kepada orang tua. 
 
Hubungan yang terasa tidak tulus ini membuat mereka malas untuk berkumpul.

4. Mengalami Kekerasan (Fisik atau Verbal)

Mereka yang mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, selama masa kecil seringkali membawa trauma yang belum sembuh. 
 
Walaupun mungkin sudah memaafkan, luka lama itu membuat interaksi dengan orang tua terasa menegangkan bahkan menyakitkan. 
 
Menjaga jarak fisik menjadi cara untuk melindungi diri.

5. Merasa Lebih Nyaman Dengan Kemandirian Sejak Kecil

Beberapa anak dibesarkan dengan tekanan untuk mandiri sejak dini, termasuk secara emosional. 
 
Mereka seringkali belajar untuk menyelesaikan masalah tanpa dukungan dari orang tua. 
 
Ketika dewasa, mereka merasa lebih nyaman mengandalkan diri sendiri dan tidak merasa perlu sering-sering pulang ke orang tua.

6. Dibesarkan dengan Cinta yang Bersyarat

Jika penerimaan dan cinta dari orang tua tergantung pada pencapaian atau perilaku tertentu, anak akan tumbuh dengan rasa bahwa kasih sayang itu tidak tulus. 
 
Jenis hubungan ini membuat mereka ragu untuk membangun kedekatan kembali saat dewasa.

7. Tidak Pernah Mempunyai Waktu Berkualitas Bersama Keluarga

Keluarga yang jarang menghabiskan waktu berkualitas bersama (seperti makan malam, berlibur, atau berbincang dari hati ke hati) sering kali meninggalkan kenangan yang tidak menyenangkan bagi anak.
 
Ketika dewasa, rumah tidak dirasakan sebagai tempat yang hangat, sehingga keinginan untuk mengunjungi menjadi berkurang.

8. Orang Tua yang Sangat Sibuk atau Emosional Tidak Terlibat

Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang selalu fokus pada pekerjaan, atau yang secara emosional tidak hadir karena menghadapi masalah pribadi (seperti depresi, ketergantungan, atau pertikaian rumah) akan merasa terabaikan. 
 
Sebagai akibatnya, mereka mungkin merasa tidak memiliki posisi di dalam rumah yang sebelumnya kosong secara emosional.

9. Terlatih Menahan Diri untuk Tidak Mengecewakan

Beberapa anak hidup di bawah harapan yang tinggi dari orang tua. 
 
Agar tidak mengecewakan, mereka memilih untuk menjauh. 
 
Jarang berkunjung bisa menjadi cara tidak langsung untuk menghindari ekspektasi yang tinggi, pertanyaan yang menekan, atau tekanan psikologis dari pengalaman sebelumnya.
 
10. Belum Menyembuhkan Luka Batin Masa Kecil

Tidak semua luka yang dialami di masa kecil disadari, apalagi disembuhkan. 
 
Banyak orang dewasa yang masih menyimpan rasa bersalah, kemarahan, atau kekecewaan terhadap orang tua mereka tanpa memprosesnya. 
 
Jarak fisik seringkali menjadi pengganti dari jarak emosional yang belum terselesaikan.

Penutup: Antara Jarak dan Pemahaman

Jarang mengunjungi orang tua tidak selalu menunjukkan ketidakpedulian. 
 
Dalam berbagai situasi, itu bisa menjadi mekanisme bertahan hidup emosional yang terbentuk sejak kecil. 
 
Psikologi menjelaskan bahwa perilaku di masa dewasa—termasuk hubungan dengan orang tua—seringkali mencerminkan pola pengasuhan dan pengalaman masa lalu.

Namun, hubungan keluarga merupakan sesuatu yang dapat diperbaiki, jika kedua pihak berkeinginan dan bersedia untuk menyembuhkan luka lama serta membangun kembali hubungan yang telah rusak. 
 
Memahami akar permasalahan adalah langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat dan autentik.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore