Anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak kena screen time untuk lindungi perkembangan otak dan kemampuan bicara mereka (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Di era digital seperti sekarang, salah satu perdebatan paling panas dalam dunia parenting adalah soal waktu layar alias screen time untuk anak-anak. Gadget, TV, dan berbagai perangkat elektronik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
Namun, seberapa aman sebenarnya membiarkan balita bahkan bayi berinteraksi dengan layar?
Dilansir dari Your Tango, seorang dokter spesialis tumbuh kembang anak, Dr. Joel Shulkin, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan yang mungkin membuat banyak orang tua tercengang.
Melalui video di TikTok, ia merekomendasikan bahwa anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak mendapatkan waktu layar sama sekali.
Dr. Shulkin menegaskan bahwa rekomendasi ini bukan sembarangan. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan nol waktu layar untuk anak di bawah 2 tahun, dan maksimal dua jam per hari untuk anak usia di atas 2 tahun, termasuk TV, gim video, dan perangkat digital lainnya.
Kenapa Anak di Bawah 2 Tahun Sebaiknya Tak Terpapar Layar?
Meskipun AAP telah memperbarui pedomannya pada 2016 dan memberi sedikit kelonggaran untuk konten edukatif dengan syarat orang tua menonton bersama dan mengulang pelajaran secara langsung, tujuannya tetap sama untuk melindungi perkembangan otak anak.
Dr. Shulkin menjelaskan bahwa anak-anak tidak benar-benar belajar dari layar. Mereka hanya meniru bunyi atau pola yang diulang-ulang.
Misalnya, mereka mungkin bisa menyebutkan angka atau huruf setelah menonton acara TV, tetapi itu tidak berarti mereka memahami maknanya. Sama seperti orang dewasa yang bisa mengulang frasa dalam bahasa asing tanpa tahu artinya.
Anak Butuh Interaksi Nyata Bukan Sekadar Gambar Bergerak
Penelitian menunjukkan bahwa interaksi langsung dengan manusia jauh lebih efektif dalam membantu anak-anak memahami konsep dan bahasa. Dalam sebuah studi dari University of Washington tahun 2003, bayi usia 9 bulan yang mendengar bahasa Mandarin langsung dari penutur aslinya mampu memahami kata-kata tersebut, tetapi bayi lain yang hanya menonton DVD pelajaran yang sama tidak belajar apa-apa.
Belajar dari manusia melibatkan isyarat nonverbal dan respon emosional yang tidak bisa ditiru oleh layar. Ini menjadi lebih krusial bagi anak dengan spektrum autisme yang memang sudah mengalami kesulitan dalam membaca isyarat sosial.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Meskipun di dunia nyata tidak selalu mudah menjauhkan anak dari layar terutama saat orang tua butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaan atau makan Dr. Shulkin menyarankan agar mengganti waktu layar dengan aktivitas fisik dan sensorik. Misalnya bermain dengan Play-Doh, pasir kinetik, balok bangunan, atau buku bergambar.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
