Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Mei 2025 | 05.58 WIB

Pakar Ungkap Batas Aman Screen Time untuk Anak di Bawah Usia 2 Tahun, Orang Tua Wajib Tahu Sebelum Terlambat!

Anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak kena screen time untuk lindungi perkembangan otak dan kemampuan bicara mereka (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Di era digital seperti sekarang, salah satu perdebatan paling panas dalam dunia parenting adalah soal waktu layar alias screen time untuk anak-anak. Gadget, TV, dan berbagai perangkat elektronik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.

Namun, seberapa aman sebenarnya membiarkan balita  bahkan bayi  berinteraksi dengan layar?

Dilansir dari Your Tango, seorang dokter spesialis tumbuh kembang anak, Dr. Joel Shulkin, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan yang mungkin membuat banyak orang tua tercengang. 

Melalui video di TikTok, ia merekomendasikan bahwa anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak mendapatkan waktu layar sama sekali. 

Dr. Shulkin menegaskan bahwa rekomendasi ini bukan sembarangan. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan nol waktu layar untuk anak di bawah 2 tahun, dan maksimal dua jam per hari untuk anak usia di atas 2 tahun, termasuk TV, gim video, dan perangkat digital lainnya.

Kenapa Anak di Bawah 2 Tahun Sebaiknya Tak Terpapar Layar?

Meskipun AAP telah memperbarui pedomannya pada 2016 dan memberi sedikit kelonggaran untuk konten edukatif dengan syarat orang tua menonton bersama dan mengulang pelajaran secara langsung, tujuannya tetap sama untuk melindungi perkembangan otak anak.

Dr. Shulkin menjelaskan bahwa anak-anak tidak benar-benar belajar dari layar. Mereka hanya meniru bunyi atau pola yang diulang-ulang. 

Misalnya, mereka mungkin bisa menyebutkan angka atau huruf setelah menonton acara TV, tetapi itu tidak berarti mereka memahami maknanya. Sama seperti orang dewasa yang bisa mengulang frasa dalam bahasa asing tanpa tahu artinya.

Anak Butuh Interaksi Nyata Bukan Sekadar Gambar Bergerak

Penelitian menunjukkan bahwa interaksi langsung dengan manusia jauh lebih efektif dalam membantu anak-anak memahami konsep dan bahasa. Dalam sebuah studi dari University of Washington tahun 2003, bayi usia 9 bulan yang mendengar bahasa Mandarin langsung dari penutur aslinya mampu memahami kata-kata tersebut,  tetapi bayi lain yang hanya menonton DVD pelajaran yang sama tidak belajar apa-apa.

Belajar dari manusia melibatkan isyarat nonverbal dan respon emosional yang tidak bisa ditiru oleh layar. Ini menjadi lebih krusial bagi anak dengan spektrum autisme yang memang sudah mengalami kesulitan dalam membaca isyarat sosial.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Meskipun di dunia nyata tidak selalu mudah menjauhkan anak dari layar  terutama saat orang tua butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaan atau makan  Dr. Shulkin menyarankan agar mengganti waktu layar dengan aktivitas fisik dan sensorik. Misalnya bermain dengan Play-Doh, pasir kinetik, balok bangunan, atau buku bergambar.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore