Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Mei 2025 | 05.11 WIB

Orang yang Tumbuh dengan Orang Tua yang Kurang Menunjukkan Kasih Sayang dan Dingin, Biasanya Mengembangkan 6 Kebiasaan Ini, Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh dengan orang tua yang kurang menunjukkan kasih sayang. (Freepik/dimaberlin) - Image

seseorang yang tumbuh dengan orang tua yang kurang menunjukkan kasih sayang. (Freepik/dimaberlin)


JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh di lingkungan yang penuh pelukan, kata-kata manis, dan ekspresi kasih sayang yang hangat. 
 
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat di mana cinta tidak pernah diucapkan, perhatian terasa dingin, dan kehangatan emosional nyaris tidak ada. 
 
Ketika seseorang dibesarkan oleh orang tua yang kurang menunjukkan kasih sayang atau bahkan bersikap dingin secara emosional, dampaknya tidak berhenti di masa kanak-kanak. 
 
Menurut psikologi, kondisi ini dapat meninggalkan jejak mendalam dan memengaruhi pola pikir, hubungan, serta kebiasaan seseorang di masa dewasa.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (21/5), terdapat enam kebiasaan yang sering dikembangkan oleh orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang minim kasih sayang:

1. Kesulitan Mengekspresikan Emosi secara Terbuka

Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak ekspresif cenderung belajar bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang tidak aman atau tidak berguna. 
 
Mereka sering kali tidak pernah melihat model bagaimana cara mengungkapkan cinta, kesedihan, atau kegembiraan secara sehat.

Di masa dewasa, hal ini dapat berkembang menjadi kecenderungan untuk menekan atau menyembunyikan emosi. 
 
Mereka merasa canggung dalam menunjukkan perasaan mereka terhadap pasangan, teman, atau bahkan anak mereka sendiri. 
 
Bukan karena mereka tidak memiliki emosi, melainkan karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana mengekspresikannya dengan aman dan sehat.

2. Perfeksionisme yang Berlebihan

Ketika kasih sayang tidak hadir, sebagian anak mencoba "mencari" cinta dengan cara berprestasi. 
 
Mereka belajar bahwa nilai-nilai akademik, perilaku baik, atau pencapaian tertentu mungkin menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian dari orang tua mereka.

Kebiasaan ini bisa terbawa hingga dewasa dalam bentuk perfeksionisme. 
 
Mereka cenderung menetapkan standar yang sangat tinggi untuk diri mereka sendiri dan merasa tidak pernah cukup baik. 
 
Meskipun telah meraih banyak hal, mereka tetap merasa kosong—karena yang sesungguhnya mereka cari bukanlah prestasi, melainkan validasi emosional yang tidak pernah mereka terima.

3. Sulit Mempercayai Orang Lain

Kurangnya kasih sayang dari orang tua bisa membuat seorang anak merasa dunia ini bukan tempat yang aman secara emosional. 
 
Orang yang seharusnya menjadi pelindung dan sumber cinta justru terasa jauh atau dingin. 
 
Hal ini bisa membentuk pandangan bahwa orang lain pun tidak dapat dipercaya.

Akibatnya, di masa dewasa, mereka bisa menjadi sangat berhati-hati, bahkan curiga, terhadap niat orang lain. 
 
Membangun kedekatan emosional terasa menakutkan. 
 
Mereka sering kali menahan diri dalam hubungan, takut disakiti atau dikecewakan, karena pengalaman masa kecil telah membentuk pola bahwa kedekatan emosional akan diiringi penolakan atau ketidakpedulian.

4. Sangat Mandiri Sampai Menolak Bantuan

Kemandirian bisa menjadi kekuatan, tetapi bagi sebagian orang yang dibesarkan oleh orang tua yang dingin, itu adalah bentuk perlindungan. 
 
Mereka belajar sejak kecil bahwa mengandalkan orang lain berarti membuka peluang untuk diabaikan atau dikecewakan.

Di masa dewasa, ini bisa membuat mereka menolak bantuan, bahkan ketika mereka benar-benar membutuhkannya. 
 
Mereka merasa bahwa bergantung pada orang lain adalah kelemahan, dan mereka lebih memilih untuk menyelesaikan segalanya sendiri. 
 
Hal ini bisa membuat mereka terlihat kuat dari luar, namun kesepian dan terisolasi di dalam.

5. Mencari Validasi Eksternal Secara Berlebihan

Ketika cinta dan penerimaan tidak datang dari dalam rumah, banyak orang kemudian tumbuh dengan "kelaparan" akan validasi. 
 
Mereka mungkin menjadi sangat bergantung pada pujian, pengakuan, atau penghargaan dari lingkungan sekitar untuk merasa bernilai.

Kebiasaan ini bisa membuat mereka terlalu sensitif terhadap kritik dan terlalu fokus pada bagaimana orang lain memandang mereka. 
 
Mereka bisa terjebak dalam lingkaran membandingkan diri, merendahkan pencapaian sendiri, dan terus mencari bukti bahwa mereka pantas dicintai—padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah penyembuhan luka emosional lama.

6. Kesulitan Mengenali dan Memenuhi Kebutuhan Emosional Sendiri

Salah satu akibat jangka panjang dari kurangnya kasih sayang di masa kecil adalah ketidaktahuan terhadap apa yang dibutuhkan secara emosional. 
 
Karena kebutuhan mereka dulu tidak diperhatikan atau dianggap tidak penting, mereka belajar untuk mengabaikan atau tidak menyadarinya sama sekali.

Di masa dewasa, ini bisa membuat mereka sulit memahami perasaan sendiri, apalagi memenuhinya. 
 
Mereka mungkin merasa hampa, mudah tersinggung, atau mengalami kecemasan tanpa tahu penyebabnya. 
 
Koneksi antara pikiran, tubuh, dan emosi mereka terputus sejak lama.

Penutup: Menyembuhkan Luka yang Tak Terlihat

Penting untuk dipahami bahwa kebiasaan-kebiasaan ini bukanlah kesalahan individu. 
 
Mereka adalah mekanisme bertahan hidup yang terbentuk dari pengalaman masa kecil yang tidak ideal. 
 
Namun, kebiasaan itu bisa diubah. 
 
Dengan kesadaran, refleksi, dan dukungan—baik melalui terapi, komunitas yang sehat, atau relasi yang penuh kasih—luka-luka lama bisa mulai sembuh.

Tumbuh dari orang tua yang dingin dan tidak menunjukkan kasih sayang memang meninggalkan bekas. 
 
Tapi bekas itu tidak harus menentukan siapa Anda di masa depan.
 
Anda berhak untuk mencintai dan dicintai, untuk merasa aman, dan untuk menjalani hidup yang emosional sehat.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore