Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 15.34 WIB

Kenalkan Sejak Kecil, Orang Tua Melatih Buah Hati Melakukan Pekerjaan Rumah dan Ajarkan Sesuai Kemampuan

DIPERAGAKAN MODEL: Orang tua bisa ajarkan anak melakukan pekerjaan rumah sejak bayi. (ANGGER BONDAN/JAWA POS) - Image

DIPERAGAKAN MODEL: Orang tua bisa ajarkan anak melakukan pekerjaan rumah sejak bayi. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

JawaPos.com - Pekerjaan rumah kerap dianggap hal yang sepele. Padahal, mengajarkan anak melakukan pekerjaan rumah akan menjadi bekal keterampilan hidup yang esensial, sekaligus proses anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.

Kemampuan seperti mencuci piring, menyapu lantai, atau melipat pakaian bukan sekadar aktivitas fisik, tapi basic life skill yang penting untuk dikuasai. Kegiatan itu juga melatih kemandirian dan tanggung jawab anak sejak dini. ’’Kalau tidak disiapkan dari kecil, bisa saja saat dewasa nanti mereka bingung atau tidak biasa melakukan itu,’’ ujar Rika Kristina M.Psi. Psikolog.

Pengenalan bisa dimulai sejak bayi. Meski belum bisa terlibat langsung, anak akan belajar dengan cara melihat. ’’Misalnya usia 6 bulan, kita bisa membacakan buku tentang aktivitas rumah atau memperlihatkan saat menyapu. Itu sudah bentuk pengenalan,’’jelas psikolog klinis di Nido Psikologi BSD itu.

Bersih-Bersih Rumah Asah Keterampilan Motorik

Saat anak mulai bisa berjalan, mereka bisa diajak terlibat secara langsung. Mulai dari kegiatan yang ringan sesuai kemampuan dan usia anak. Jangan sampai memberi tugas terlalu sulit atau justru terlalu mudah. ’’Misal, usia toddler sekitar 1,5 tahun, sudah bisa ikut lap-lap meja, pegang sapu kecil, atau siram tanaman sambil main air. Ini mengasah keterampilan motorik dan sensorik juga,’’ ungkap Rika.

Kunci keberhasilan mengajarkan pekerjaan rumah terletak pada cara orang tua memperkenalkan aktivitas tersebut. ’’Kalau orang tua menganggap, misalnya menyapu, adalah aktivitas menjengkelkan, maka anak juga akan menangkap energi negatifnya,’’ katanya. ’’Libatkan anak dengan cara menyenangkan. Dengan begitu, anak tidak melihat menyapu sebagai beban tugas atau hukuman,’’ tambahnya.

Rika mencontohkan anaknya yang sejak usia satu tahun sudah terbiasa memegang sapu dan ikut mencuci mobil bersama sang ayah. ’’Anak-anak itu suka meniru dan bermain. Jadi gunakan pendekatan bermain, bukan perintah,’’ lanjutnya.

Anak Laki-Laki pun Diajari Mandiri

Lantas bagaimana jika orang tua baru menyadari pentingnya hal ini ketika anak sudah besar? ’’Tidak apa-apa, tetap bisa. Tapi butuh waktu dan konsistensi. Banyak anak yang mulai belajar saat kuliah atau tinggal sendiri,’’ kata Rika. Namun, ia mengingatkan, jika kebiasaan tidak ditanamkan sejak kecil, saat anak kembali ke rumah setelah merantau, habit itu bisa hilang lagi.

Dia menyoroti pentingnya membagi pekerjaan rumah secara adil tanpa bias gender. ’’Pekerjaan rumah itu netral, bukan hanya untuk perempuan. Anak laki-laki juga perlu diajarkan masak, bersih-bersih, karena mereka juga perlu mandiri,’’ tegasnya.

Bagi keluarga yang memiliki asisten rumah tangga (ART), Rika tetap menganjurkan anak diberi tanggung jawab. ’’ART itu membantu, tapi bukan berarti anak lepas tanggung jawab. Minimal anak bisa bersihkan kamarnya sendiri atau menata sepatu,’’ jelasnya.

Terakhir, untuk membentuk kebiasaan, orang tua boleh memberikan reward, tapi bukan berarti harus terus-terusan. ’’Di awal boleh kasih stiker bintang atau pujian. Tapi setelah jadi rutinitas, tidak perlu lagi. Yang penting anak tahu itu bagian dari tanggung jawabnya,’’ lanjutnya. (lai/ai)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore