Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 03.13 WIB

7 Pola Asuh yang Bisa Membuat Anak Jadi Sombong dan Manja, Salah Satunya Selalu Menyelesaikan Masalah Anak

Ilustrasi orang tua dan anak (freepik) - Image

Ilustrasi orang tua dan anak (freepik)

JawaPos.com - Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Tanpa disadari, ada kebiasaan yang mungkin kita terapkan dalam pola asuh yang justru membuat anak tumbuh dengan sikap berhak dan kurang menghargai usaha.

Pola asuh ini sering kali bukan niat buruk, melainkan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya atau pengaruh lingkungan sekitar.

Namun, memahami dampaknya bisa membantu kita membesarkan anak yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki empati tinggi.

Berikut adalah tujuh kebiasaan yang tanpa sadar dapat membuat anak menjadi manja dan merasa dunia berputar di sekeliling mereka, dikutip dari Small Business Bonfire, Selasa (25/3).

1. Memberikan Semua yang Anak Inginkan

Banyak orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, jika anak selalu mendapatkan apa pun yang mereka inginkan tanpa usaha, mereka bisa kehilangan rasa menghargai.

Anak-anak yang terus-menerus menerima hadiah tanpa harus bekerja untuk itu akan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, mereka bisa kesulitan memahami nilai kerja keras dan menunggu sesuatu dengan sabar.

Solusinya? Ajarkan mereka konsep usaha dan penghargaan. Misalnya, dorong anak untuk menabung jika menginginkan sesuatu atau bantu mereka memahami bahwa tidak semua permintaan bisa langsung dikabulkan.

2. Tidak Pernah Memberikan Kritik yang Membangun

Tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya kecewa. Tapi jika terlalu melindungi mereka dari kritik, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak pernah salah.

Padahal, kritik yang membangun sangat penting untuk perkembangan mereka. Dengan memahami kesalahan dan cara memperbaikinya, anak belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Tentu, kritik harus disampaikan dengan cara yang baik, bukan dengan merendahkan. Gunakan pendekatan yang membangun, seperti: "Kamu sudah berusaha bagus, tapi mungkin bisa dicoba cara lain agar lebih baik lagi."

3. Tidak Menetapkan Batasan yang Jelas

Anak-anak butuh batasan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah. Jika aturan terlalu longgar atau berubah-ubah, anak akan kesulitan memahami konsekuensi dari tindakannya.

Misalnya, jika mereka sering melanggar aturan tanpa konsekuensi yang jelas, mereka bisa menganggap semua keinginannya harus dituruti. Ini bisa berdampak buruk pada hubungan sosial mereka saat dewasa.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore