
Ilustrasi orang tua dan anak (freepik)
JawaPos.com - Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Tanpa disadari, ada kebiasaan yang mungkin kita terapkan dalam pola asuh yang justru membuat anak tumbuh dengan sikap berhak dan kurang menghargai usaha.
Pola asuh ini sering kali bukan niat buruk, melainkan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya atau pengaruh lingkungan sekitar.
Namun, memahami dampaknya bisa membantu kita membesarkan anak yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki empati tinggi.
Berikut adalah tujuh kebiasaan yang tanpa sadar dapat membuat anak menjadi manja dan merasa dunia berputar di sekeliling mereka, dikutip dari Small Business Bonfire, Selasa (25/3).
1. Memberikan Semua yang Anak Inginkan
Banyak orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, jika anak selalu mendapatkan apa pun yang mereka inginkan tanpa usaha, mereka bisa kehilangan rasa menghargai.
Anak-anak yang terus-menerus menerima hadiah tanpa harus bekerja untuk itu akan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, mereka bisa kesulitan memahami nilai kerja keras dan menunggu sesuatu dengan sabar.
Solusinya? Ajarkan mereka konsep usaha dan penghargaan. Misalnya, dorong anak untuk menabung jika menginginkan sesuatu atau bantu mereka memahami bahwa tidak semua permintaan bisa langsung dikabulkan.
2. Tidak Pernah Memberikan Kritik yang Membangun
Tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya kecewa. Tapi jika terlalu melindungi mereka dari kritik, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak pernah salah.
Padahal, kritik yang membangun sangat penting untuk perkembangan mereka. Dengan memahami kesalahan dan cara memperbaikinya, anak belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Tentu, kritik harus disampaikan dengan cara yang baik, bukan dengan merendahkan. Gunakan pendekatan yang membangun, seperti: "Kamu sudah berusaha bagus, tapi mungkin bisa dicoba cara lain agar lebih baik lagi."
3. Tidak Menetapkan Batasan yang Jelas
Anak-anak butuh batasan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah. Jika aturan terlalu longgar atau berubah-ubah, anak akan kesulitan memahami konsekuensi dari tindakannya.
Misalnya, jika mereka sering melanggar aturan tanpa konsekuensi yang jelas, mereka bisa menganggap semua keinginannya harus dituruti. Ini bisa berdampak buruk pada hubungan sosial mereka saat dewasa.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
