Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Juni 2025 | 17.36 WIB

Peran Ideal Kakek-Nenek dalam Pengasuhan, Selalu Komunikasi dengan Orang Tua Cucu

Ilustrasi pola asuh anak - Image

Ilustrasi pola asuh anak

JawaPos.com - Kehadiran kakek dan nenek kerap menjadi penyelamat ketika orang tua sibuk bekerja atau butuh bantuan tambahan dalam mengasuh anak. Namun, terkadang terdapat perbedaan terkait aturan maupun pengasuhan. Bagaimana menjaga peran kakek-nenek tetap bermakna, tanpa membuat anak bingung atau bahkan merusak pola asuh yang sudah dibangun orang tua?

Tak sedikit keluarga yang mengandalkan peran kakek-nenek untuk menjaga anak mereka. Apalagi saat orang tua bekerja. Namun, idealnya, posisi kakek dan nenek bukan sebagai pengarah utama, melainkan sebagai pendukung dan pengawas dari pola asuh yang telah disepakati orang tua.

“Prinsip umumnya adalah pengasuhan itu terletak di tangan orang tua. Kakek dan nenek boleh terlibat, tetapi bukan sebagai figur yang menentukan arah perkembangan cucu,” ujar Psikolog Ganesha Bayua Putra.

Terutama pada masa usia dini (2–6 tahun), anak tengah membangun pemahaman awal tentang peran orang tua dan struktur keluarga. Di masa ini, kejelasan peran sangat krusial. Maka, kehadiran kakek-nenek sebaiknya memperkuat, bukan menyimpang dari pola pengasuhan utama.

Salah satu hal krusial dalam menjaga kekompakan pengasuhan antara orang tua dan kakek-nenek adalah komunikasi soal aturan sehari-hari. Misalnya, ketika kakek atau nenek ingin memberikan permen, memperbolehkan menonton TV lebih lama, atau meminjamkan gadget, idealnya mereka lebih dulu meminta izin atau berdiskusi dengan orang tua si anak.

Langkah tersebut bukan hanya soal sopan santun, tetapi menjadi pondasi penting agar sistem pengasuhan berjalan seirama. “Ini bukan sekadar menunjukkan rasa hormat terhadap aturan yang dibuat orang tua, tapi juga membantu kakek dan nenek memahami nilai dan kebiasaan seperti apa yang ingin dibentuk oleh orang tua,” jelas psikolog klinik perspektif itu.

Jika hal ini diabaikan, maka bisa berdampak pada konsistensi nilai yang sedang dibangun orang tua. “Ketika kakek-nenek memperbolehkan hal-hal yang dilarang orang tua, mereka menjadi figur yang melemahkan nilai tersebut. Ini sangat memengaruhi perkembangan kontrol diri anak,” tegas Ganesha.

Sebaliknya, jika semua pihak sepakat sejak awal tentang batasan dan aturan yang diterapkan, maka akan lebih mudah menjaga konsistensi. Anak pun tidak akan merasa bingung karena tidak dihadapkan pada dua “versi” aturan yang berbeda.

Bagi orang tua, menyampaikan aturan kepada kakek dan nenek bisa jadi tidak selalu mudah. Ganesha menyarankan untuk menggunakan komunikasi asertif. “Komunikasi asertif artinya menyampaikan pesan dengan jelas sekaligus membuka ruang untuk mendengar pendapat kakek-nenek. Jelaskan alasan di balik aturan yang dibuat,” katanya.

Apabila kakek dan nenek merasa tidak sepakat, mereka pun sebaiknya menyampaikan melalui pendekatan yang sama. “Tanyakan klarifikasi, bukan langsung menolak. Ini bisa meminimalisir konflik dan menunjukkan respek terhadap peran orang tua,” lanjutnya.

Namun, jika sudah terlanjur terjadi, ortu tetap bisa mengembalikan disiplin di rumah. Misalnya, anak dibiarkan bermain gadget terlalu lama saat bersama kakek-nenek. “Tidak ada kata terlambat untuk perubahan. Kesepakatan antara orang tua dan kakek-nenek tentang perilaku yang akan diubah sangat penting,” tutur Ganesha.

Agar anak bisa tetap memegang aturan ortu meski sedang berada di rumah nenek, ortu perlu membentuk kebiasaan sejak dini. Mulai dari menjelaskan aturan secara sederhana, hingga melatih anak untuk menolak secara sopan ketika ditawari hal yang bertentangan.

“Ajarkan anak menolak dengan sopan, dan yang terpenting, orang tua juga harus patuh pada aturan yang mereka buat,” imbuhnya.

Misalnya, ortu melarang anak makan permen, maka mereka pun sebaiknya tidak mengonsumsi permen di hadapan anak. “Anak belajar dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang ia dengar,” tegasnya.

Mengasuh anak memang perlu kolaborasi, terutama ketika melibatkan tiga generasi. Namun dengan komunikasi yang terbuka dan saling menghargai, keluarga bisa menjadi ruang tumbuh yang sehat dan harmonis untuk anak.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore