Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Juni 2025 | 23.18 WIB

Orang Tua yang Tidak Dewasa Menggunakan 6 Cara Memalukan Ini untuk Mendisiplinkan Anak di Depan Umum

Ilustrasi. (Pexels) - Image

Ilustrasi. (Pexels)

JawaPos.com - Pernahkah kamu berada di antrean kasir sebuah toko dan menyaksikan orang tua mendadak marah besar pada anaknya hanya karena hal sepele—seperti menyentuh cokelat atau menangis? 

Momen seperti itu bisa terasa canggung bagi siapa pun yang melihat, tapi lebih dari itu, bisa meninggalkan luka psikologis bagi anak yang menjadi sasaran.

Perlu dibedakan antara kesalahan yang sesekali terjadi dan pola disiplin yang mencerminkan ketidakdewasaan emosional. Ketika orang tua terbiasa menggunakan cara yang tidak matang secara emosional, anak-anak tidak hanya merasa bingung, tapi juga cemas dan tidak aman. 

Berikut enam cara memalukan yang kerap digunakan orang tua yang belum dewasa saat mendisiplinkan anak di depan umum dan bagaimana dampaknya menurut psikologi, seperti dilansir dari Geediting.

1. Reaksi fisik yang berlebihan

Salah satu bentuk disiplin yang paling mencolok adalah reaksi fisik yang berlebihan. Misalnya, menarik tangan anak dengan kasar, mencubit, atau bahkan memukulnya karena kesal. 

Di depan umum, ini bukan hanya membuat orang-orang sekitar tidak nyaman, tapi juga membuat anak merasa dipermalukan dan tidak aman. 

Penelitian menunjukkan bahwa hukuman fisik, apalagi yang dilakukan di tempat umum, cenderung meningkatkan perilaku agresif dan tekanan emosional pada anak. 

Ini bukan hanya soal kekerasan fisik, tapi juga tentang pesan yang ditanamkan: bahwa kemarahan adalah alat untuk mengendalikan orang lain.

2. Mempermalukan anak di depan umum

Memarahi anak dengan suara keras, mengejeknya, atau membandingkannya dengan anak lain di depan orang banyak adalah cara klasik yang digunakan orang tua yang belum dewasa. 

Psikolog seperti Dr. Brené Brown menjelaskan bahwa rasa malu yang terus-menerus bisa merusak harga diri anak secara mendalam. Saat anak dipermalukan di depan umum, mereka merasa tidak hanya dihukum, tetapi juga diekspos. 

Ini bisa membuat anak menutup diri, menjadi sangat patuh demi menghindari konflik. Atau sebaliknya memberontak sebagai bentuk perlindungan diri.

3. Menggunakan sarkasme atau bahasa merendahkan

Komentar sinis seperti, “Masa segitu saja tidak bisa?” atau tatapan meremehkan bisa meninggalkan bekas yang mendalam pada anak. Bahasa yang merendahkan mungkin terlihat ringan bagi orang dewasa, tapi bagi anak, ini membentuk cara mereka melihat diri sendiri. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore