Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Mei 2025 | 18.36 WIB

Sebelum Dikirim ke Barak Militer, Emosional Anak-Anak Babak Belur karena Kehilangan Figur Ayah dan Ibu

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta pendidikan dirubah (Kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel).

JawaPos.com - Program Pendidikan Kebangsaan (PPK) yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terus mendapat perhatian publik. Dalam program itu  Dedi memakai pendekatan disiplin semimiliter. Di dalamnya juga memberi sentuhan psikologis dan emosional melalui ilmu grafologi (ilmu membaca karakter seseorang melalui tulisan tangan).

Seorang ahli grafologi, Gusti Aju Dewi turut terlibat sebagai salah satu mentor pada PPK tersebut bersama psikolog. Dia memiliki sertifikat internasional dan telah menekuni bidang ini selama 14 tahun.

Dalam video YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel yang diunggah pada 28 Mei 2025, Dedi berdialog dengan Gusti Aju Dewi untuk membahas anak-anak yang mengikuti PPK.

“Anak-anak 273 itu semuanya nulis? Ibu baca satu-satu?” tanya Dedi Mulyadi. “Iya, nulis. Saya tidak baca isinya, Pak,” jawab Gusti Aju Dewi seperti dikutip dari Radar Bogor (Jawa Pos Group).

“Yang pertama saya cari, trigger-nya apa. Satu, permasalahan utamanya apa. Kemudian, trigger-nya apa, dan apa sih kebutuhan mereka, gitu. Karena ketika ada gejolak sosial tuh, ada sesuatu yang kurang pas, gitu, Pak. Itu sebetulnya ada sesuatu yang tidak match,” imbuh Gusti Aju Dewi.

Dedi Mulyadi yang mendengarkan penjelasan itu mulai mempertanyakan problem yang dialami anak-anak secara umum. “Emosionalnya babak belur, Pak, mayoritas,” kata Gusti Aju Dewi. “Emosionalnya babak belur, itu problem utamanya apa dari tulisan?” tanya Dedi Mulyadi. 

“Mereka, problem yang paling utama adalah kesulitan untuk mendapat penerimaan. Kemudian, kedua, kesulitan untuk mengekspresikan diri mereka,” jawab Gusti Aju.

Gusti menjelaskan bahwa problem utama yang dialami oleh anak-anak yang mengikuti PPK adalah kesulitan untuk mendapat penerimaan dan mengekspresikan diri.

Di sisi lain, Dedi menekankan bahwa ia sempat dituduhkan melakukan konsepsi pendidikan yang tak memiliki landasan filosofi pendidikan. Terlebih jika dimasukan ke barak militer, tingkat emosi para siswa akan menjadi lebih besar.

“Karena militer tuh kayak gini. Apa yang Ibu lakukan sebagai seorang yang punya lisensi global, apa yang Ibu lihat sebenarnya terjadi? Dan apakah benar dengan stigma yang dilihat oleh para pengamat itu?,” jelas Dedi.

Menjawab beberapa pertanyaan tersebut, Gusti Aju Dewi menjawab melalui kacamata seorang grafolog. Gusti Aju Dewi bergabung dalam PPK sebagai mentor, diajak oleh Ibu Cassandra, seorang psikolog klinis.

“Kami melakukan dua kali asesmen. Saya menggunakan grafologi, sedangkan Bu Cassandra dari psikologi klinis menggunakan wawancara dan psikotes. Hasilnya, mayoritas anak belum memiliki fondasi kejiwaan yang kuat,” ujarnya.

Gusti Aju Dewi juga mengungkapkan hal yang paling menonjol di antara anak-anak PPK ini, yaitu belum adanya keharmonisan pada diri sendiri. “Di antara profil mayoritas anak-anak ini, yang paling utama menonjol yang saya lihat adalah keharmonisan dengan diri sendiri itu tidak ada,” jawab dia.

Dedi Mulyadi pun bertanya, apakah metodologi yang dilakukan kemarin pada PPK sudah bisa membentuk karakter manusia dan mengembalikan jati diri anak-anak.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore