
5 Pola Asuh ala Generasi Tua yang Ditolak oleh Generasi Muda, Salah Satunya Parenting ala VOC
JawaPos.com - Salah satu kesenjangan terbesar antara generasi tua dan generasi muda terletak pada cara mendidik anak.
Generasi muda seperti Gen Z dan Milenial kerap mengkritik cara pengasuhan generasi sebelumnya yang dianggap kurang memperhatikan kesehatan mental anak.
Didikan yang keras, kaku, dan penuh tekanan membuat banyak dari mereka menyebutnya sebagai parenting ala VOC.
Meski niat awalnya baik, beberapa pendekatan lama ini kini dianggap tidak relevan dengan tantangan zaman sekarang. Berikut lima pola asuh dari generasi tua yang mulai ditolak oleh generasi muda, seperti dilansir dari Geediting.
1. Pola Asuh Otoriter: “Ucapan Adalah Perintah”
Pola asuh otoriter dikenal dengan sikap orang tua yang menuntut ketaatan penuh tanpa ruang untuk diskusi. Apa pun yang dikatakan orang tua adalah final. Tidak boleh dibantah, tidak boleh dikritisi. Anak hanya diberi dua pilihan: menurut atau dianggap pembangkang.
Meskipun pendekatan ini bisa membuat anak menjadi patuh, namun efek jangka panjangnya bisa merugikan.
Dr. Diana Baumrind, seorang psikolog yang meneliti gaya pengasuhan, menyatakan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola otoriter cenderung memiliki harga diri rendah dan kemampuan sosial yang buruk. Mereka terbiasa menuruti, bukan memahami atau berpikir kritis.
2. Pilihan Karier yang Terbatas
Generasi tua yang tumbuh di masa ekonomi sulit sangat menghargai kestabilan finansial. Tidak heran jika mereka mendorong anak-anaknya untuk mengambil jalur karier yang dianggap aman dan prestisius.
Misalnya seperti dokter, pengacara, insinyur, PNS. Profesi yang tidak “jelas” seperti content creator, ilustrator digital, atau game developer kerap dipandang sebelah mata.
Namun dunia sudah berubah. Jenis pekerjaan baru bermunculan seiring perkembangan teknologi. Generasi muda lebih menekankan pentingnya bekerja di bidang yang disukai, karena kebahagiaan dan kesehatan mental tidak kalah penting dibanding sekadar status atau gaji tetap.
3. Terlalu Menekankan Kompetisi dan Persaingan
Banyak dari kita yang tumbuh dalam budaya ranking. Menjadi juara kelas adalah kebanggaan orang tua. Ketika dewasa, tekanan bergeser menjadi: siapa yang menikah lebih dulu, siapa yang punya mobil lebih cepat, siapa yang naik jabatan paling awal.
Tekanan semacam ini, jika terus-menerus, akan membuat seseorang merasa hidup adalah perlombaan tanpa garis akhir. Dr. Alfie Kohn, seorang psikolog pendidikan, mengatakan bahwa kompetisi sering kali kontraproduktif.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
