Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 23.42 WIB

7 Kesalahan Pola Asuh yang Tak Disadari dan Dampaknya pada Perkembangan Mental Anak sejak Dini

Ilustrasi kesalahan pola asuh berdampak pada perkembangan mental anak sejak dini (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Tindakan yang tampak penuh kasih saat mendampingi anak justru bisa berdampak negatif jika dilakukan tanpa kesadaran.

Pola asuh merupakan cara orang tua atau wali membimbing, mendidik, dan membesarkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Jeffrey Bernstein, Ph.D., psikolog keluarga, pola asuh terlalu mengontrol dapat melemahkan kemandirian anak.

Memahami efek tersembunyi dari pola asuh membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional anak.

Berikut 7 kesalahan pola asuh yang tak disadari dan dampaknya pada perkembangan mental anak sejak dini dilansir dari laman Psychologytoday, Senin (12/5).

Dorongan untuk segera membantu anak menyelesaikan masalah muncul secara alami dari rasa cinta. Namun, kebiasaan ini membuat anak kurang memiliki ruang untuk belajar menghadapi frustasi.

Anak yang terus-menerus dibantu bisa kehilangan kepercayaan diri. Menahan diri untuk tidak langsung memperbaiki adalah langkah awal menumbuhkan ketangguhan anak.

2. Anak Butuh Dukungan Emosional

Ketika anak mengalami kegagalan kecil, seperti mainan rusak, yang dibutuhkan bukan solusi cepat. Duduk bersama dan mengakui perasaannya memberi rasa aman.

Reaksi seperti ini menunjukkan bahwa perasaan anak penting untuk dihargai. Empati lebih berarti dibandingkan tindakan langsung.

3. Validasi Lebih Penting dari Nasihat

Memberi respons emosional seperti "Kedengarannya sulit" bisa berdampak lebih besar daripada memberi saran. Anak merasa lebih dihargai saat didengar dibandingkan dinasihati.

Validasi memperkuat ikatan dan rasa saling percaya. Hubungan emosional menjadi dasar penting dalam perkembangan anak.

4. Tekanan Tidak Menghasilkan Perfeksi

Saat anak merasa tugasnya tidak sempurna, tekanan dari orang dewasa hanya akan memperburuk kondisi. Memahami bahwa hasil tidak harus sempurna membantu anak mengembangkan rasa aman.

Ketakutan terhadap kegagalan berkurang jika didukung secara tenang. Anak butuh dukungan, bukan paksaan.

5. Hadir Tanpa Harus Mengoreksi

Terkadang, sikap diam dan kehadiran lebih efektif daripada petuah panjang. Anak yang sedang kewalahan lebih butuh ruang dibandingkan reaksi impulsif.

Ketika merasa dimengerti, anak lebih mudah menenangkan diri. Keheningan bisa menjadi bentuk dukungan yang kuat.

6. Jangan Ambil Alih Kepemilikan Masalah

Langkah memperbaiki masalah anak secara langsung bisa mengurangi rasa tanggung jawab. Anak perlu diberi ruang untuk menghadapi dan mengatasi situasi sulit sendiri.

Memberi kepercayaan bahwa ia mampu menyelesaikan masalah membentuk kemandirian. Pemulihan dari kegagalan menjadi pelajaran penting dalam hidupnya.

7. Kurangi Bicara, Perbanyak Dengar

Mendengarkan aktif tanpa langsung merespons mendorong anak mengungkapkan perasaannya. Ini membangun koneksi yang kuat dan meningkatkan kepercayaan.

Anak merasa diperhatikan dan dihargai secara utuh. Pendekatan ini lebih membangun dibandingkan pemberian solusi cepat.

Menghindari kebiasaan memperbaiki masalah anak secara otomatis dapat membentuk pribadi yang mandiri dan kuat secara emosional.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore