Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 April 2025 | 18.52 WIB

7 Kebiasaan Kecil Orang Tua Cerdas yang Berdampak Besar Bagi Masa Depan Anak Menurut Psikologi

Ilustrasi orang tua dan anak. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang tua dan anak. (Freepik)

JawaPos.com - Tidak ada buku panduan pasti tentang cara menjadi orang tua, tapi satu hal yang dipelajari sebagai seorang ibu adalah bahwa hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih berdampak daripada yang dibayangkan.

Yang terpenting bukan selalu keputusan besar seperti memilih sekolah atau kegiatan ekstrakurikuler anak melainkan cara orang tua hadir secara konsisten, membimbing, dan merespons mereka dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang membentuk dunia batin mereka.

Para orang tua yang paling cerdas memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu yang sederhana, namun sangat berdampak dalam membantu anak sukses dalam jangka panjang. Tidak mencolok, tidak dramatis, tapi sangat berpengaruh. Dilansir dari laman DMNews pada Kamis (24/04), berikut adalah tujuh kebiasaan tersebut yang bisa membuat perbedaan besar.

1. Menanamkan pola pikir berkembang sejak dini

Psikolog dari Stanford, Dr. Carol Dweck, mengatakan, "Menjadi lebih baik lebih penting daripada hanya menjadi". Ketika orang tua memuji usaha ("Kamu gigih menyelesaikan soal matematika itu") daripada sifat tetap ("Kamu pintar sekali”), anak akan belajar bahwa kemampuan itu bisa dilatih, bukan sesuatu yang melekat.

Mengapa ini penting dalam jangka panjang? Karena pola pikir berkembang membuat anak lebih berani menghadapi tantangan. Mereka tidak mudah goyah saat melakukan kesalahan, karena kesalahan dianggap sebagai data, bukan hukuman.

Anak yang terbiasa dengan cara berpikir ini akan lebih gigih di sekolah, tangguh dalam pekerjaan, dan mampu membangun hubungan yang sehat. Cobalah untuk bertanya pada anak saat makan malam, "Apa yang paling sulit hari ini, dan bagaimana kamu mengatasinya?". Walau kadang obrolannya berakhir di cerita LEGO, prinsipnya tetap tertanam.

2. Mengajarkan bahasa emosi

Menurut pakar hubungan, Dr. John Gottman, "Saat kita mengakui perasaan anak, kita mengajarkan bahwa emosi mereka penting". Melatih anak mengenali, memberi nama, dan mencari solusi atas perasaannya bukan cuma menenangkan rutinitas menjelang tidur ini juga membentuk kemampuan otak mereka dalam mengatur emosi.

Bayangkan anak yang bisa berkata, "Aku kesel mainanku rusak” ketimbang langsung tantrum. Kemampuan seperti ini membuat anak lebih tenang, empati, dan peka terhadap suasana sekitar saat dewasa.

3. Memberi ruang untuk bermain bebas

Percaya atau tidak, kadang kardus bekas bisa mengalahkan aplikasi belajar terbaru. Saat anak menciptakan permainan sendiri dengan membangun benteng dari bantal atau membuat drama, mereka sedang mengembangkan kreativitas, kerja sama, dan cara berpikir fleksibel.

Penelitian dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa bermain bebas meningkatkan fungsi eksekutif otak kemampuan untuk merencanakan, fokus, dan mengendalikan diri.

Akhir pekan memang menggoda untuk diisi dengan aktivitas "bermanfaat". Orang tua cerdas tahu bahwa kebosanan bukanlah kekosongan yang harus segera diisi, melainkan peluang untuk berkreasi.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore