Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Maret 2025 | 22.02 WIB

Tanpa Sadar, 8 Pengalaman Ini Membuat Anak Tidak Dekat dengan Orang Tuanya Saat Dewasa, Menurut Psikologi

Ilustrasi anak yang tidak dekat dengan orang tuanya saat dewasa ( freepik/ katemangostar) - Image

Ilustrasi anak yang tidak dekat dengan orang tuanya saat dewasa ( freepik/ katemangostar)

JawaPos.com - Kedekatan antara anak dan orang tua bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi terbentuk dari interaksi, pengalaman, dan pola asuh yang dialami sejak kecil.

Sayangnya, tidak semua hubungan orang tua dan anak berjalan harmonis hingga dewasa. Banyak orang yang tanpa sadar merasa lebih nyaman menjaga jarak dari orang tuanya, bahkan sulit untuk berbagi cerita atau menjalin hubungan emosional yang mendalam.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut psikologi, ada beberapa pengalaman di masa kecil yang dapat membentuk pola hubungan ini.

Tanpa disadari, cara orang tua bersikap, pola komunikasi dalam keluarga, hingga lingkungan tempat anak tumbuh bisa meninggalkan jejak yang bertahan hingga dewasa.

Dilansir dari laman Personal Branding Blog pada Jumat (28/3), berikut merupakan 8 pengalaman yang membuat anak tidak dekat dengan orang tuanya saat dewasa, menurut psikologi.

1. Gaya parenting yang terlalu otoriter

Beberapa orang tua membesarkan anak dengan aturan ketat tanpa memberi ruang untuk berdiskusi atau mengekspresikan pendapat.

Jika anak selalu diperintah untuk patuh tanpa boleh bertanya atau memberikan pendapat, mereka akan tumbuh dalam rasa takut, bukan dalam rasa nyaman dan percaya.

Orang tua yang otoriter mungkin merasa bahwa mereka sedang mendidik anak dengan baik, tetapi sebenarnya, mereka menciptakan hubungan yang kaku dan jauh dengan anak mereka.

Anak-anak yang terbiasa hidup dalam aturan tanpa kebebasan emosional cenderung merasa tidak nyaman berbagi cerita atau mendekati orang tua.

Saat dewasa, mereka bisa memilih untuk menjaga jarak karena hubungan yang mereka miliki lebih banyak berisi ketakutan daripada kehangatan.

2. Lingkungan keluarga yang penuh konflik

Jika seorang anak tumbuh dalam rumah yang dipenuhi dengan pertengkaran atau suasana yang penuh ketegangan, mereka akan lebih fokus untuk bertahan daripada membangun hubungan yang hangat dengan orang tua.

Anak-anak yang sering melihat orang tua bertengkar cenderung belajar untuk diam dan menghindari konflik agar tidak terlibat dalam drama keluarga.

Ada juga yang tumbuh dengan kecemasan karena setiap saat mereka merasa bisa menjadi sasaran kemarahan orang tua.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore