Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 20.53 WIB

Luka Masa Kecil, 8 Pengalaman yang Seringkali Memicu Renggangnya Hubungan dengan Orang Tua

Ilustrasi seorang anak kecil yang tampak sedih. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang anak kecil yang tampak sedih. (Freepik)

JawaPos.com - Hubungan dengan orang tua adalah fondasi penting dalam kehidupan seseorang. Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman positif dalam hubungan ini. Kerenggangan hubungan dengan orang tua seringkali berakar dari pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan.

1. Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi

Satu di antara pengalaman yang dapat merusak hubungan adalah ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi. Anak-anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan dari orang tua mereka. Jika kebutuhan ini diabaikan, anak bisa merasa tidak dicintai dan tidak berharga.

Perasaan ini dapat terbawa hingga dewasa dan menciptakan jarak emosional dengan orang tua. Mereka mungkin merasa sulit untuk mempercayai atau bergantung pada orang tua mereka. Luka emosional ini membutuhkan waktu dan upaya untuk dipulihkan.

2. Pola Asuh yang Tidak Konsisten

Pola asuh yang berubah-ubah juga dapat menjadi sumber masalah dalam hubungan orang tua dan anak. Inkonsistensi dalam aturan dan disiplin membuat anak merasa bingung dan tidak aman. Mereka tidak tahu apa yang diharapkan dari mereka dan kapan mereka akan dihukum atau dipuji.

Ketidakpastian ini dapat menyebabkan kecemasan dan ketidakpercayaan terhadap orang tua. Anak-anak membutuhkan batasan yang jelas dan konsisten untuk merasa aman dan terarah. Pola asuh yang tidak konsisten justru menciptakan kebingungan dan ketidakstabilan emosional.

3. Merasa Harus Berhati-hati di Dekat Orang Tua

Tumbuh dalam lingkungan di mana anak merasa harus selalu berhati-hati di dekat orang tua juga sangat merusak. Mereka merasa takut untuk mengekspresikan diri atau membuat kesalahan karena khawatir akan reaksi negatif dari orang tua. Suasana tegang dan penuh kewaspadaan ini menciptakan jarak emosional.

Anak-anak belajar untuk menyembunyikan perasaan dan pikiran mereka demi menghindari konflik atau hukuman. Dikutip dari geediting.com Rabu (26/3), kondisi ini menghambat perkembangan hubungan yang jujur dan terbuka antara orang tua dan anak.

4. Tidak Merasa Dilihat atau Didengar

Pengalaman tidak merasa dilihat atau didengar oleh orang tua juga dapat meninggalkan luka mendalam. Ketika orang tua tidak memberikan perhatian penuh atau mengabaikan pendapat dan perasaan anak, anak merasa tidak penting. Mereka merasa bahwa suara mereka tidak berarti dan keberadaan mereka tidak diperhatikan.

Perasaan ini dapat merusak harga diri dan rasa percaya diri anak. Mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan untuk mengekspresikan diri atau mempercayai orang lain. Validasi dan perhatian dari orang tua sangat penting bagi perkembangan emosional anak.

5. Menjadi Orang Tua Kedua di Usia Dini

"Parentifikasi" adalah kondisi ketika anak dipaksa untuk mengambil peran orang tua bagi saudara kandung atau bahkan orang tua mereka sendiri. Beban tanggung jawab yang terlalu berat di usia muda dapat menghilangkan masa kanak-kanak dan menciptakan stres yang berkepanjangan.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore