Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Maret 2025 | 04.07 WIB

Luka yang Tak Terlihat, 8 Pola Emosi yang Sering Dialami oleh Seseorang yang Tumbuh Dewasa di Keluarga Tidak Harmonis

Ilustrasi pola emosi yang sering muncul pada mereka yang besar di lingkungan keluarga yang tidak harmonis. (Freepik) - Image

Ilustrasi pola emosi yang sering muncul pada mereka yang besar di lingkungan keluarga yang tidak harmonis. (Freepik)

JawaPos.Com - Tidak semua luka bisa dilihat dengan mata, dan tidak semua penderitaan meninggalkan bekas yang tampak pada fisik. 

Sebagaimana halnya, orang-orang yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis, sering kali menciptakan dampak emosional yang mendalam, yang tanpa disadari terbawa hingga dewasa. 

Orang-orang yang mengalami masa kecil penuh ketegangan, konflik, atau kurangnya kasih sayang biasanya memiliki pola emosi tertentu yang memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan dunia. 

Dilansir dari DMNews, inilah delapan pola emosi yang sering muncul pada mereka yang besar di lingkungan keluarga yang tidak harmonis.

1) Sensitivitas Tinggi terhadap Perasaan Orang Lain

Orang yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik atau ketidakpastian sering kali mengembangkan kepekaan tinggi terhadap perubahan emosi di sekitarnya. 

Mereka terbiasa membaca ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh orang lain untuk mengantisipasi potensi pertengkaran atau ketegangan. 

Hal ini muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan agar mereka dapat menghindari situasi yang tidak menyenangkan.

Sensitivitas ini dapat menjadi kekuatan dalam hal empati dan memahami perasaan orang lain. 

Banyak dari mereka yang tumbuh menjadi individu yang sangat perhatian dan peka terhadap kebutuhan emosional orang-orang di sekitar mereka.

 Namun di sisi lain, hal ini juga dapat menyebabkan kelelahan emosional. 

Mereka terlalu banyak menyerap energi negatif dari orang lain dan sering kali merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, bahkan dengan mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.

2) Perfeksionisme yang Berlebihan

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan ekspektasi tinggi atau kurangnya apresiasi sering kali mengembangkan sifat perfeksionis. 

Mereka merasa harus selalu melakukan segalanya dengan sempurna untuk mendapatkan penerimaan atau menghindari kritik yang menyakitkan. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore