Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Maret 2025 | 15.57 WIB

Orang Tua yang Menerapkan 7 Pola Asuh Ini Ternyata Bisa Buat Anak Jadi Nakal Menurut Psikologi, Apa Saja?

Ilustrasi pola asuh yang salah terhadap anak. (Freepik) - Image

Ilustrasi pola asuh yang salah terhadap anak. (Freepik)

JawaPos.com - Semua orang tua pasti ingin anaknya tumbuh bahagia, bertanggung jawab, dan penuh rasa hormat. Namun, tanpa disadari ada kebiasaan tertentu dalam pola asuh yang justru bisa mendorong anak untuk melawan aturan dan menentang otoritas atau mereka jadi nakal.

Menurut psikologi, beberapa perilaku parenting orang tua yang dilakukan dengan niat baik justru bisa menjadi pemicu anak menjadi tidak patuh dan memberontak.

Ingatlah bahwa parenting anak adalah seni menyeimbangkan antara memberi batasan dan memberikan kebebasan. Terlalu keras bisa membuat anak memberontak, tetapi terlalu longgar juga bisa membuat mereka kehilangan arah.

Yang terpenting, pastikan anak merasa dihargai, didengar, dan dicintai. Dengan begitu, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya patuh, tetapi juga memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam hidupnya.

Kabar baiknya, jika kita menyadari hal ini sejak dini, maka bisa mulai membuat perubahan yang lebih baik dalam pola asuh.

Berikut adalah tujuh kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak menjadi pembangkang dan bagaimana cara mengatasinya sebagaimana dikutip dari Geediting, Senin (3/3).

1) Terlalu Mengontrol

Wajar jika orang tua ingin memastikan anaknya berada di jalur yang benar. Namun, jika segala hal terlalu dikendalikan—dari cara berpakaian, teman yang dipilih, hingga aktivitas sehari-hari—anak bisa merasa terkekang.

Ketika anak merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya, mereka cenderung melawan untuk mendapatkan kembali kebebasan mereka. Bentuk perlawanan ini bisa berupa melanggar aturan, berbohong, atau melakukan sesuatu secara diam-diam.

Solusinya? Berikan struktur yang jelas, tetapi tetap beri anak kesempatan untuk mengambil keputusan dalam batasan yang masuk akal. Dengan begitu, mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri.

2) Tidak Mendengarkan Perasaan Anak

Pernahkah kita langsung memberi solusi saat anak bercerita tentang masalahnya? Mungkin niatnya baik, tetapi jika kita terlalu cepat menepis perasaan anak, mereka bisa merasa diabaikan.

Anak-anak yang tidak merasa didengar sering kali menunjukkan frustrasi dengan cara melawan atau menutup diri. Kadang, mereka hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi atau memberi solusi instan. Terkadang, anak tidak butuh jawaban. Mereka hanya ingin dipahami.

3) Terlalu Keras dalam Mendisiplinkan

Siapa yang tidak pernah kehilangan kesabaran saat menghadapi anak yang sulit diatur? Namun, menerapkan disiplin dengan cara berteriak, mempermalukan, atau memberikan hukuman berat justru bisa membuat anak semakin menentang.

Anak yang takut pada orang tua mungkin akan patuh di depan, tetapi di belakang mereka bisa berperilaku sebaliknya.

Disiplin seharusnya bersifat mendidik, bukan menakut-nakuti. Alih-alih menghukum dengan emosi, lebih baik menjelaskan konsekuensi dari tindakan mereka dengan cara yang masuk akal.

4) Tidak Konsisten dengan Aturan

Pernah mengancam akan memberi konsekuensi tapi akhirnya tidak menepatinya? Misalnya, mengatakan "Kalau tidak beresin mainan, besok nggak boleh main HP!" tetapi esok harinya tetap membiarkan anak bermain HP karena malas ribut.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore