Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Agustus 2026 | 23.21 WIB

Industri Baterai Lokal Tertinggal Padahal Mobil Listrik Melaju Pesat

Founder National Battery Research Institute (NBRI) sekaligus profesor Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Founder National Battery Research Institute (NBRI) sekaligus profesor Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia belum sejalan dengan industri baterai dalam negeri. Sejatinya perkembangan kendaraan listrik yang masuk ke pasar Indonesia sudah membawa baterai dan rantai pasoknya sendiri.

Founder National Battery Research Institute (NBRI) Evvy Kartini mengatakan, kondisi ini menjadi tantangan besar dalam membangun ekosistem baterai nasional. Bertambahnya kendaraan listrik di Indonesia seharusnya diikuti dengan peningkatan penggunaan baterai produksi dalam negeri.

Ketika industri mobil listrik datang, produsen sudah melengkapi dengan baterai. Sebab, industri mobil listrik sudah memiliki konsorsium baterai sendiri.

"Jadi, itu memang kenyataannya," ujar Evvy yang juga profesor Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat ditemui JawaPos.com di sela-sela International Battery Summit (IBS) 2026 di Jiexpo Kemayoran, Kamis (27/8).

Menurut dia, pembangunan pabrik baterai di Indonesia harus dibarengi dengan keberadaan industri kendaraan yang dapat menyerap produksinya. Tanpa industri pengguna baterai, pabrik yang berdiri tidak bisa membuat seluruh rantai nilai baterai di dalam negeri.

Contohnya pabrik baterai PT Hyundai LG Indonesia Green Power yang memiliki kapasitas 10 gigawatt hour (GWh). Sebagian besar produksinya sejak awal sudah memiliki tujuan penggunaan tertentu.

"HLI kan dia 10 gigawatt hour. Tapi dia itu ketika dia bikin mau bikin pabriknya aja, dia sudah punya terikat bahwa nanti produknya 99 persen untuk Hyundai. Udah boleh kan yang lain-lain. Jadi, ya ada di Indonesia cuma tempatnya saja," jelasnya.

Menurut Evvy, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan pabrik baterai dengan industri kendaraan listrik di Indonesia. Hyundai sudah memiliki fasilitas manufaktur kendaraan sehingga dapat menyerap baterai yang diproduksi di dalam negeri.

"Kalau Hyundai kan dia punya pabrik mobil, dia ambil. Sekarang ketika CATL ini kan, dia bangun dia kerja sama siapa? Misalnya sama BYD, bisa aja. Pabrik BYD-nya ada di Indonesia, jadi kan nanti ada Molinas gitu kan, dia baru bisa. Tapi kalau gak ada yang nangkep, ya dikirim lagi. Cuma bukan dikirim material, dikirim baterainya," kata Evvy.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore