
Ilustrasi distribusi kendaraan roda dua. (Istimewa)
JawaPos.com–Kinerja industri otomotif yang masih dibayangi perlambatan ekonomi mulai terasa pada awal 2026. Namun, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) mengklaim tetap mampu mencatat pertumbuhan laba dengan mengandalkan efisiensi dan penguatan kualitas bisnis.
Dalam laporan keuangan kuartal I-2026 (tidak diaudit), MPMX membukukan pendapatan Rp 4,0 triliun, turun 4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Penurunan ini terutama dipicu melemahnya beberapa lini usaha, khususnya yang berkaitan dengan penjualan kendaraan.
Meski begitu, laba bersih justru disebut meningkat 8 persen YoY menjadi Rp 173 miliar. Perbaikan margin dan efisiensi operasional menjadi faktor utama yang menopang kinerja tersebut.
”Tantangan dari perlambatan ekonomi masih terasa di sektor otomotif hingga kuartal I tahun ini. Meski demikian, fokus Perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas berhasil mendorong efisiensi operasional serta memperkuat profitabilitas,” ujar Group CFO MPMX Beatrice Kartika.
Dia menambahkan, perusahaan juga menerapkan disiplin dalam pengelolaan risiko, terutama di segmen pembiayaan, agar kinerja tetap terjaga di tengah tekanan pasar. Di segmen distribusi dan ritel sepeda motor, penjualan unit mengalami penurunan 5 persen YoY, mencerminkan pelemahan daya beli. Namun, tekanan ini sebagian tertahan pertumbuhan bisnis ritel dan layanan purna jual.
Pendapatan purna jual bahkan naik 4 persen YoY, menandakan adanya pergeseran kontribusi dari penjualan unit ke layanan berkelanjutan. Secara keseluruhan, pendapatan segmen ini turun 3 persen menjadi Rp 3,79 triliun. Meski demikian, laba kotor tetap tumbuh 2 persen berkat pengelolaan biaya yang lebih efisien.
Sementara pada segmen asuransi, pendapatan turun 17 persen YoY menjadi Rp 204 miliar, dipengaruhi penurunan lini kendaraan bermotor dan properti. Namun, efisiensi berhasil mendorong hasil layanan asuransi naik 10 persen.
Di bisnis penyewaan kendaraan mencatat penurunan pendapatan 4 persen YoY menjadi Rp368 miliar. Di sisi lain, laba kotor meningkat 9 persen dengan margin yang naik signifikan menjadi 22,6 persen.
Beda lagi di segmen pembiayaan, perusahaan memilih strategi yang lebih konservatif. Pendapatan turun 43 persen YoY, seiring fokus pada kualitas aset. Langkah ini berdampak pada penurunan beban operasional dan provisi, sehingga rugi bersih berhasil ditekan 23 persen menjadi Rp 38 miliar.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
