
DFSK Super Cab bisa diubah jadi food truck hingga Campervan. (Istimewa)
JawaPos.com - Produsen kendaraan niaga ringan di Indonesia, PT Sokonindo Automobile (DFSK), mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada komunikasi resmi dari PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) terkait kerja sama pengadaan kendaraan operasional untuk koperasi desa/kelurahan Merah Putih.
Meski begitu, DFSK menegaskan kesiapan mereka jika nantinya dipercaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Director of Sales Center DFSK, Cing Hok Rifin, menyebutkan bahwa pihaknya belum menerima permintaan langsung dari Agrinas.
“Belum ada komunikasi langsung ke kami sebagai pabrikan terkait proyek tersebut,” ujar Cing Hok saat ditemui di kantornya (16/3).
DFSK Pertanyakan Syarat Kendaraan 4x4
Menariknya, DFSK justru mempertanyakan persyaratan penggunaan kendaraan berpenggerak empat roda (4x4) dalam proyek tersebut.
Menurut Cing Hok, spesifikasi tersebut dinilai kurang efisien untuk kebutuhan operasional koperasi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa kendaraan 4x4 memiliki biaya perawatan yang lebih tinggi dibandingkan 4x2, serta konsumsi bahan bakar yang lebih boros.
“Kenapa harus dikunci 4x4? Karena dari sisi biaya operasional, 4x4 jauh lebih mahal, baik dari konsumsi BBM maupun perawatannya,” jelasnya.
Sebaliknya, kendaraan dengan sistem penggerak 4x2 dinilai sudah cukup memadai untuk mayoritas kondisi jalan di Indonesia, terutama untuk distribusi logistik di wilayah desa.
4x2 Dinilai Lebih Efisien untuk Operasional Koperasi
DFSK menilai bahwa kendaraan 4x2 menawarkan efisiensi yang lebih baik, baik dari sisi biaya bahan bakar maupun perawatan berkala. Hal ini menjadi faktor penting, terutama bagi koperasi desa yang membutuhkan kendaraan operasional dengan biaya rendah.
“Untuk banyak daerah, 4x2 sudah cukup. Lebih hemat BBM dan biaya servis juga jauh lebih ringan dibandingkan 4x4,” tambah Cing Hok.
DFSK Siap Penuhi Pesanan, Ini Tiga Syarat Utamanya
Sementara itu, CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, menegaskan bahwa DFSK terbuka untuk berpartisipasi dalam proyek ini, namun dengan melalui tiga tahapan penting.
Pertama, perlu dilakukan assessment berbasis kebutuhan riil di lapangan, termasuk menentukan apakah kendaraan yang dibutuhkan benar 4x4 atau cukup 4x2.
Kedua, kejelasan waktu pengadaan kendaraan agar produksi dapat disesuaikan.
Ketiga, jumlah unit yang dibutuhkan harus dipastikan sejak awal untuk mendukung perencanaan produksi.
Bila tiga hal tersebut jelas, maka selanjutnya DFSK masuk ke tahap penawaran harga. Kami yakin bisa memberikan harga yang kompetitif.
