Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Februari 2022 | 23.48 WIB

Produk Otomotif RI Tembus Pasar di 80 Negara

New Fortuner - Image

New Fortuner

JawaPos.com - Industri manufaktur otomotif nasional mencatat tonggak sejarah baru. Untuk kali pertama, kendaraan produksi Indonesia diekspor ke Australia. Pelepasan ekspor secara simbolis dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin (15/2).

Kendaraan yang akan mengaspal di Negeri Kanguru itu adalah Toyota Fortuner. Pengapalan kendaraan yang dibuat di Karawang tersebut mulai bergulir pada Maret 2022. Pemerintah Indonesia, kata Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono, telah memberikan dukungan.

”Termasuk dalam kerja sama bilateral dan multilateral seperti kerja sama dengan Australia melalui IA-CEPA sehingga capaian ini bisa terwujud dengan baik,” ujarnya.

Presiden Jokowi yang kemarin meninjau PT TMMIN mengapresiasi kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang memiliki kualifikasi dan mampu bersaing di tingkat global. ”Karena apa pun tadi kita sudah melihat produknya Fortuner selain produk-produk yang lain. Ini dihasilkan oleh SDM-SDM Indonesia yang memiliki kualifikasi yang sangat baik,” katanya.

Jokowi mengapresiasi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) produk mobil yang dihasilkan Toyota telah mencapai lebih dari 75 persen. ”Banyak spare part dan aksesori yang ada di dalam mobil itu disuplai dari industri-industri UKM,” bebernya. Langkah tersebut, lanjut dia, bisa menghidupkan usaha-usaha kecil di Indonesia.

Ekspor itu merupakan langkah PT TMMIN mengambil peluang di tengah pandemi Covid-19. ”Pandemi juga membuka untuk kita bisa mengambil peluang dan kesempatan yang ada, baik itu mengambil pasar-pasar baru,” ujarnya.

Jokowi juga mengapresiasi kinerja Menteri Perindustrian Agus Gumiwang yang terus mendorong ekspor mobil. Sejauh ini sudah ada 80 negara di empat benua yang menjadi jujukan ekspor mobil dari Indonesia.

Bagi Toyota Indonesia, secara kumulatif telah mencatatkan ekspor sebanyak 2 juta unit mobil. Ekspor Toyota Indonesia dimulai pada 1987 dengan pengapalan perdana Kijang generasi ketiga (Kijang Super) ke Brunei Darussalam. Volume ekspor perdana itu masih dalam jumlah yang sangat sedikit, yaitu 50 unit per bulan.

Momen terbaik kegiatan ekspor Toyota dimulai saat Toyota Indonesia dipercaya dalam proyek IMV pada 2004. Posisi strategis sebagai basis produksi Kijang Innova memberikan peluang yang besar bagi Toyota Indonesia untuk memperluas penetrasi ke pasar global selain memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuktikan kapabilitas Indonesia. ”Sejak saat itu volume ekspor Toyota Indonesia meningkat menjadi sekitar 7.000 unit per tahun,” terang Warih.

Aktivitas ekspor Toyota berkembang, baik untuk volume maupun negara tujuannya. Dimulai dari pengembangan pasar ke beberapa negara di Timur Tengah dan Amerika Latin, saat ini Kijang Innova, Fortuner, Vios, Sienta, Veloz, Avanza, Rush, Lite Ace/Town Ace, Agya, dan Raize serta kendaraan terurai (CKD), mesin bensin, komponen, dan alat bantu produksi telah diekspor ke lebih dari 80 negara di kawasan Asia, Pasifik, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Sementara itu, volume ekspor tahunan meningkat tajam menjadi lebih dari 100.000 unit per tahun sejak 2012. Bahkan sempat menembus angka 200.000 unit per tahun pada 2018 dan 2019 sebelum pandemi Covid-19 menghantam ekonomi global.

Setelah sempat terkoreksi hingga 30 persen pada 2020 akibat pandemi, ekspor kendaraan utuh bermerek Toyota dari Indonesia pada 2021 mencatatkan angka 188 ribu unit. ”Tahun ini Toyota Indonesia juga berencana untuk melakukan produksi lokal model hybrid electric vehicle (HEV) yang juga ditujukan untuk pasar ekspor selain pasar domestik,” tegas Warih.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyebutkan, sama halnya ke Jepang, ekspor produk mobil ke Australia terkenal memiliki spesifikasi yang ketat. Misalnya terkait spesifikasi bahan bakar, emisi, dan keamanan. Itu menandakan bahwa industri otomotif Indonesia telah memiliki daya saing yang tinggi sehingga produknya diminati di berbagai pasar mancanegara. ”Dengan demikian, setelah menembus pasar Australia, Indonesia sudah ekspor ke empat benua di dunia, yaitu Amerika, Afrika, Asia, dan Australia,” imbuhnya.

Dengan rantai nilai yang terbentang luas, industri otomotif nasional memiliki nilai forward linkage sebesar Rp 35 triliun dan nilai backward linkage Rp 43 triliun pada 2021. ”Toyota sendiri memiliki nilai forward linkage senilai Rp 19,7 triliun dan nilai backward linkage senilai Rp 16,1 triliun. Jadi, yang disumbangkan Toyota hampir 40 persen dari total akumulatif industri manufaktur,” ungkapnya.

Untuk perluasan pasar ekspor, Agus menyebutkan bahwa produk otomotif Indonesia telah mampu menembus lebih dari 80 negara. Kinerja ekspor pada 2021 tercatat sebanyak 294 ribu unit kendaraan CBU dengan nilai Rp 52,90 triliun, 91 ribu set CKD dengan nilai Rp 1,31 triliun, dan 85 juta pieces komponen dengan nilai Rp 29,13 triliun.

”Secara khusus ekspor produk TMMIN pada tahun 2021 sebanyak 119 ribu unit kendaraan atau sekitar 40 persen dari total ekspor otomotif Indonesia ke luar negeri. Alhamdulillah, Bapak Presiden bisa hadir untuk melepas pengiriman ekspor perdana ke Australia yang juga disertai beberapa produk diekspor ke Filipina dan Jepang,” terangnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore