Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Juli 2018 | 01.48 WIB

Mobil Tua Pengundang Rezeki

Mobil kuno koleksi Robby Djojosaputro. - Image

Mobil kuno koleksi Robby Djojosaputro.

JawaPos.com - Hobi tak selamanya selalu membuang uang. Banyak hobi yang juga menghasilkan uang. Salah satunya hobi mengoleksi mobil kuno, mobil berusia 40 tahun atau lebih.


Sekilas hobi mengoleksi mobil kuno hanya menghambur-hamburkan uang. Betapa tidak, kendaraan roda empat ini tidak lagi fungsional. Tidak bisa digunakan sebagai kendaraan harian. Juga tidak bisa sering-sering berwisata, apalagi digeber jarak jauh. Namun, butuh perawatan agar tetap berfungsi dan sedap dipandang.  Perawatan inilah yang memberi kesan membuang uang.


Sebenarnya ada peluang meraup rezeki tambahan dari mobil berusia uzur tersebut. Caranya, dengan menyewakannya sebagai properti pembuatan video clip, pembikinan iklan, atau digunakan sebagai mobil pengantin. Dengan menyewakannya, pemilik mobil akan mendapat penghasilan tambahan yang setidaknya bisa untuk menutupi biaya perawatan. Salah seorang yang telah mengisi peluang itu adalah Ir. Robby Djojosaputro, anggota Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI).


Robby menjadi anggota PPMKI sejak 1980. Saat itu ia telah memiliki mobil kuno bermerek Chrysler tahun 1948 yang ia beli di Bandung seharga Rp 400.000.  Mobil ini kemudian ia jual pada 1983. Lalu, pada tahun yang sama ia membeli lagi mobil Chevrolet tahun 1952, yang hingga saat ini masih menjadi miliknya.


Robby  mulai menyewakan mobil kuno miliknya pada 1997. Saat itu mobilnya digunakan untuk properti pembuatan iklan obat tetes mata. Harga sewanya Rp 1,5 juta per hari. Sejak itu, mobilnya  disewa untuk pembuatan video clip, pembuatan iklan, atau digunakan sebagai mobil pengantin. “Setelah 2005, mobil kuno sering disewa,” ujarnya. Namun, tidak selalu mobilnya yang disewa, melainkan juga mobil anggota lain dari PPMKI. Belakangan biaya sewanya sekitar Rp 3,5 juta per hari, termasuk driver dan bensin.


“Biasanya, driver-nya pemilik mobil,” tambah Ketua Umum PPMKI periode 1998 – 2001 ini. Ia mengungkapkan, pemilik mobil kuno umumnya tidak mempekerjakan pengemudi. Soalnya, mobil tersebut sangat jarang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Diluar itu, mobil hanya dijalankan saat ada kegiatan rally atau konvoi yang diselenggatakan oleh PPMKI. Ketika rally atau konvoi pun yang mengendarai haruslah sang pemilik.


Sampai sekarang sudah puluhan pasangan pengantin yang telah menyewa mobil Robby. Dalam menyewakan mobil kuno untuk digunakan sebagai mobil pengantin ini ia tidak memberi jaminan bahwa mobil tidak akan mogok. “Karena mobil tua, bisa saja mogok. Walaupun yang saya alami, mobil saya tidak pernah mogok, tapi bukan berarti mobil kuno tidak bisa mogok,” jelasnya. Untuk mengatisipasinya, ia selalu meminta penyewa untuk menyiapkan mobil keluarga di belakang mobil pengantin selama perjalanan.


Ada juga, yang sejak awal pihak keluarga pengantin menyiapkan mobil pengantin cadangan. Jika mobil pengantin mogok, pengantin dipindah ke mobil keluarga atau mobil pengantin cadangan untuk meneruskan perjalanan. Ia kemudian memperbaiki mobilnya untuk kemudian menyusul ke tempat acara setelah mobil selesai diperbaiki.


Saat ini Robby memiliki lima unit mobil kuno, yakni Chevrolet Impala tahun 1960, Honda S600 tahun 1965, Chevrolet Belair tahun 1956, Chevrolet tahun 1952, dan Fiat 1100 1950. Di antara kelimanya, yang sering disewa untuk dijadikan mobil pengantin adalah Chevrolet Impala. Mobil ini dianggap eksotik karena atapnya bisa dibuka dan jarak jok depan-belakang cukup luas. Dengan kondisi seperti itu, selama perjalanan pengantin bisa duduk di atas sandaran jok belakang atau menari-nari di antara jok depan dan belakang. Honda S600 dan Chevrolet Belair juga beberapa kali disewa untuk digunakan sebagai mobil pengantin.


Sementara, Chevrolet tahun 1952 punya kenangan tersendiri bagi Robby. Mobil buatan Amerika Serikat berwarna hitam ini ia gunakan sebagai mobil pengantin saat ia menikah di Solo pada 1985. Menariknya lagi, mobil ini sudah pernah berpindah tangan dua kali. Ia membeli mobil tersebut pada 1983, lalu menjual mobil tersebut kepada seorang anggota PPMKI pada 1986, dan setelah dibeli anggota lain dari PPMKI, mobil kembali ia beli pada 2007.



Untuk merawat mobil-mobil tersebut, khususnya yang dalam kondisi 80 – 90% baik, biasanya Robby hanya memerlukan biaya untuk mengganti oli dan aki. Untuk perawatan tersebut, dan pajak kendaraan bermotor, biayanya tak lebih dari Rp 1 juta per tahun per mobil. Pengeluaran tersebut, menurut Robby, bisa ditutup dari hasil penyewaan mobilnya.

Editor: Teguh Jiwa Brata
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore