
Ilustrasi aktivitas pertambangan nikel di kawasan Pulau Obi, Halmahera Selatan, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Abdul Fatah)
JawaPos.com-Pengamat Industri Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai kebijakan yang menentukan besaran insentif mobil listrik (moblis) dari jenis baterai dapat menjadi titik balik kebangkitan industri otomotif nasional.
Dihubungi dari Jakarta, Jumat, Yannes menilai bahwa usulan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) baru-baru ini yang menganjurkan porsi insentif lebih besar terhadap baterai berbasis nikel (NCM/NCA) dibanding lithium ferro phosphate (LFP) dipandang sebagai langkah proteksionisme strategis untuk memaksa merek EV membangun ekosistem industri yang lebih dalam di Tanah Air.
“Ini memiliki logika ekonomi makro yang kuat, sebab idenya sebagai bentuk nasionalisme industri yang bertujuan memastikan integrasi industri hulu nikel Indonesia yang masif dengan industri hilir (sel baterai dan EV) dan menciptakan ekosistem yang terintegrasi secara vertikal serta added value sebesar-besarnya bagi Indonesia,” kata Yannes.
Berdasarkan laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Indonesia menegaskan posisinya sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, dengan jumlah mencapai 55 juta metrik ton atau sekitar 45 persen dari total cadangan global pada 2023-2024.
Indonesia juga merupakan produsen nikel terbesar, menguasai sekitar 50 persen produksi nikel dunia. Dengan kebijakan seperti itu, ekosistem dapat terbangun, dan nilai tambah ekonomi tidak lagi lari ke luar negeri.
Menurut Yannes, baterai merupakan komponen termahal dalam sebuah EV, mencapai 40–50 persen dari total biaya.
Penggunaan baterai berbasis nikel yang diproduksi di dalam negeri akan mempercepat pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen, sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem industri baterai nasional.
Secara makro, strategi ini juga memberi keunggulan kompetitif karena baterai nikel memiliki densitas energi lebih tinggi, sehingga jarak tempuh EV buatan Indonesia bisa melampaui standar global berbasis LFP.
Namun, di balik peluang tersebut tersimpan risiko mikro yang tidak kecil. Harga baterai nikel masih sekitar 35–40 persen lebih mahal dibanding LFP.
Tanpa insentif besar untuk menutup selisih biaya produksi, EV berbasis nikel berpotensi sulit bersaing di segmen harga Rp200–400 juta yang menjadi tulang punggung pasar nasional.
“Agar baterai NCM-NCA bisa bersaing dengan LFP, pemerintah tentunya harus menutup gap biaya produksi NCM/NCA yang sekitar 35-40 persen lebih mahal dari LFP per KwHnya, sehingga dengan insentif yang diberikan EV berbasis baterai nikel bisa dijual dengan harga lebih murah dari mobil berbasis baterai LFP di pasar Indonesia,” jelas Yannes.
Yannes juga menyoroti potensi kekosongan pasokan pada awal 2026. Saat ini, PT Hyundai LG Indonesia masih fokus memenuhi kebutuhan internal, sementara Indonesia Battery Corporation (IBC) baru diperkirakan siap secara komersial di akhir 2026.
Jika aturan diterapkan terlalu kaku sejak awal tahun, insentif LFP yang dipangkas dapat membuat harga EV melonjak, sementara EV berbasis nikel lokal belum tersedia dalam jumlah memadai.
Ia menekankan pentingnya masa transisi dan kewajiban pabrik baterai menjual produknya ke semua merek agar pasar tetap kompetitif.
“Karena harga baterai nikel ini masih mahal, pemerintah juga harus memberi diskon besar-besaran khusus untuk mobil berbaterai nikel ber-TKDN 40 persen ke atas supaya harga di diler nanti bisa lebih murah dari mobil baterai LFP yang sekarang menjamur,” kata Yannes.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
