Ilustrasi: Baterai mobil listrik Wuling diproduksi lokal di Cikarang, Jawa Barat. (Istimewa)
JawaPos.com - Dunia saat ini masih berada dalam fase peralihan dari dominasi kendaraan bermesin pembakaran internal. Kondisi tersebut memicu berbagai pertanyaan seputar adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV), terutama mengenai daya tahan dan usia pakai kendaraan tersebut dalam jangka panjang.
Perusahaan asal Kanada, Geotab, yang mengembangkan perangkat lunak manajemen armada untuk sektor logistik, pemerintahan, dan kota pintar, telah melakukan analisis terhadap degradasi baterai kendaraan listrik ringan sejak 2020. Dalam laporan terbarunya, Geotab mengkaji data kesehatan baterai secara nyata dari lebih dari 22.700 unit mobil listrik yang mencakup 21 merek dan model berbeda.
Seperti dilansir dari New Atlas, hasil studi tahun 2025 menunjukkan bahwa rata-rata penurunan kapasitas baterai berada di angka 2,3 persen per tahun. Angka ini dinilai moderat dan mengindikasikan baterai EV dapat bertahan hingga 13 tahun atau lebih.
Dengan tingkat degradasi tersebut, setelah digunakan lebih dari 12 tahun, baterai mobil listrik masih diperkirakan menyimpan sekitar 75 persen dari kapasitas awalnya. Capaian ini tergolong baik, terlebih jika dibandingkan dengan temuan studi 2024 dari perusahaan asuransi otomotif The Zebra.
Studi The Zebra menyebutkan rata-rata kepemilikan mobil di Amerika Serikat berlangsung sekitar delapan tahun saja. Berdasarkan data tersebut, Geotab menilai kendaraan listrik layak digunakan untuk operasional armada maupun oleh pemilik pribadi.
Geotab juga menegaskan bahwa laju degradasi baterai tidak bersifat seragam. Faktor seperti jenis kendaraan, kebiasaan pengisian daya, kondisi iklim, serta pola penggunaan sangat memengaruhi daya tahan baterai.
Penggunaan pengisi daya cepat DC memungkinkan pengisian jarak tempuh ratusan mil dalam waktu singkat. Namun, hal ini cenderung mempercepat penurunan kapasitas baterai dibandingkan pengisian AC Level 2 yang lebih lambat.
Percepatan degradasi akibat pengisian cepat disebabkan oleh peningkatan suhu baterai selama proses tersebut. Menariknya, laporan Geotab pada 2024 mencatat tingkat degradasi lebih rendah, yakni sekitar 1,8 persen per tahun.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah data dalam studi terbaru serta meningkatnya frekuensi penggunaan pengisian daya cepat hingga 2025. Jika dikombinasikan dengan temuan riset lain, kendaraan listrik mulai mengurangi jejak karbon hanya dalam dua tahun penggunaan.
Dengan demikian, EV semakin unggul dibandingkan mobil berbahan bakar bensin dari sisi lingkungan. Selain itu, kemunculan teknologi baterai semi-solid-state yang kini dikembangkan menjanjikan usia pakai lebih panjang.
Inovasi ini berpotensi membuat mobil listrik dapat digunakan lebih lama, menempuh jarak lebih jauh, serta mempertahankan nilai jual kembali dalam periode lebih panjang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
