Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 September 2025 | 06.08 WIB

Perkembangan Mobil Listrik di Indonesia, Penjualan Meningkat Namun Adopsi Masih Terhambat

GWM Ora 03 saat dites jalan oleh awak media Jakarta. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com-Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia sepanjang periode semester satu atau pada Januari hingga Juli 2025 mencatatkan lonjakan signifikan, namun penerimaan masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan ini ternyata belum sepenuhnya terbentuk.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales BEV mencapai 42.178 unit dalam tujuh bulan pertama 2025. Angka tersebut nyaris melampaui total penjualan mobil listrik sepanjang 2024 yang berada di level 43.188 unit.

Di atas kertas, capaian itu menandai pertumbuhan pesat. Namun, Gaikindo menegaskan bahwa pasar mobil listrik masih jauh dari kata mapan. 

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menyebut peningkatan penjualan ini belum sebanding dengan target besar adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

“EV memang ada peningkatan dibanding tahun lalu. Tetapi masih jauh dari harapan,” ujar Jongkie dihubungi JawaPos.com.

BYD Dominasi, Tapi Daya Beli Jadi Kendala

Dari sisi merek, produsen asal Tiongkok BYD mendominasi pasar dengan 16.427 unit per Juli 2025. Model seperti BYD Sealion 7, Dolphin, hingga city car terbaru BYD Atto 1, yang dipasarkan mulai Rp195 juta, menjadi magnet utama.

Meski demikian, mayoritas merek lain masih menghadapi keterbatasan pasar. Wuling (6.210 unit), Chery (5.196 unit), hingga Hyundai (978 unit) mencatat penjualan yang relatif kecil dibanding potensi pasar otomotif nasional yang tiap tahun bisa menembus jutaan unit kendaraan.

Subsidi Belum Menjawab Hambatan

Pemerintah sudah menggelontorkan insentif melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025, mulai dari PPN DTP 10% hingga pembebasan bea masuk impor mobil listrik CBU. Tujuannya untuk mendorong adopsi lebih cepat.

Namun, faktor daya beli masyarakat, minimnya infrastruktur pengisian daya, hingga kekhawatiran soal harga jual kembali (resale value) masih menjadi penghambat utama. Di sisi lain, kondisi ekonomi yang lesu juga menekan daya konsumsi otomotif.

Meskipun pilihan mobil listrik semakin beragam, belum banyak masyarakat yang benar-benar beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore