Penjualan mobil merosot selama 2025 berjalan. Gaikindo mempertimbangkan untuk merevisi target penjualan pada 2025. (Dok/JawaPos.com)
JawaPos.com-Industri otomotif Indonesia kembali diuji. Data terakhir Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk semester 1 2025 menunjukkan bahwa penjualan mobil tidak secerah tahun lalu.
Dari sisi wholesales atau distribusi dari pabrik ke diler, sepanjang Januari- Agustus 2025, total penjualan mobil wholesales sebanyak 500.951 unit, atau turun 10,6 persen Year on Year (YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebanyak 560.552 unit.
Penjualan mobil secara ritel pun ikut menyusut 10,7 persen menjadi 522.162 unit, dibandingkan pada periode 8 bulan 2024 yang sebanyak 584.847 unit.
Fakta ini menegaskan bahwa perlambatan tidak hanya terjadi di tingkat distribusi, tetapi juga pada daya serap pasar.
Toyota Masih Perkasa, Persaingan Merek Ketat
Sementara jika melihat berdasarkan merek, penjualan mobil tertinggi pada Januari-Agustus 2025 masih dipegang oleh Toyota. Toyota mencatat sebanyak 161.079 unit, disusul Daihatsu yang juga dinaungi Grup Astra sebanyak 84.702 unit.
Berturut-turut, agen pemegang merek (APM) yang mencatatkan penjualan terlaris di Indonesia yakni Mitsubishi Motors sebanyak 42.873 unit, Honda 42.291 unit dan Suzuki 39.101 unit.
Komposisi ini memperlihatkan bahwa dominasi dua merek asal Jepang, Toyota dan Daihatsu, masih sulit digoyang, menguasai separuh lebih pasar otomotif nasional.
Dengan tren penurunan ini, Gaikindo mulai realistis menilai target penjualan mobil 2025 yang sebelumnya dipatok 900 ribu unit. Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menegaskan pihaknya kemungkinan besar akan melakukan revisi.
“Memang sulit untuk mencapai angka penjualan 900 ribu unit di tahun 2025 ini, mungkin kita harus merevisi angka tersebut,” ujar Jongkie dihubungi JawaPos.com.
Ia menambahkan, melemahnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang menekan penjualan. Bahkan pameran otomotif besar seperti GIIAS, yang biasanya menjadi katalis peningkatan angka penjualan, dinilai tidak akan mampu mendongkrak pasar secara signifikan tahun ini.
Jongkie juga menyoroti aspek pembiayaan. Menurutnya, sekitar 60–70 persen pembelian mobil di Indonesia dilakukan melalui kredit atau leasing. Karena itu, turunnya volume penjualan otomatis membuat penyaluran kredit melambat.
“Kalau penjualan mobil turun, ya otomatis kreditnya tidak tersalurkan. Kan sekitar 60–70 persen dari penjualan mobil kita melalui leasing. Jadi kalau volume turun, kredit juga ikut menurun,” jelasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
