
Taksi listrik Bluebird dengan mobil mewah Tesla Model X. (Rian Alfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Khalayak global dikejutkan dengan langkah terbaru Tesla. Produsen mobil listrik asal AS tersebut rupanya menghentikan pemesanan untuk dua produknya di Tiongkok. Hal tersebut muncul diduga menjadi dampak dari perang dagang.
Reuters melaporkan pilihan pemesanan Tesla Model S dan Model X di situs resmi Tiongkok tak lagi tersedia. Hal yang sama juga terlihat di kanal Weibo, media sosial Tiongkok, resmi mereka. Dua mobil tersebut merupakan produk yang harus diimpor dari AS. Tesla masih belum memberikan keterangan resmi mengenai kejadian tersebut.
Menurut lansiran CnEVPost, tombol pemesanan Model 3 dan Model Y masih bisa dipesan. Dua produk tersebut diproduksi di Shanghai. Sebelum tertutupnya pemesanan, estimasi pengiriman Model S dan Model di pasar Tiongkok sudah mencapai 3 – 8 bulan.
Langkah tersebut datang di tengah perdagangan AS dan Tiongkok. Tiongkok sudah memberikan 84 persen untuk semua produk dari AS. Sedangkan, AS sudah memberlakukan tarif impor hingga 125 persen.
Perlu diketahui, dua produk yang kini tak bisa dipesan di Tiongkok ada di segmen menengah ke atas. Kontribusinya pun tak terlalu besar. Selama kuartal pertama, Tesla mengirim 336,681 unit. Dari sana, Model 3 dan Model Y menyerap 96 persen dengan jumlah 323.800 unit. Sedangkan, penjualan Model S, Model X, dan Cybertruck dalam periode yang sama hanya 12.881 unit.
Baru saja, perusahaan yang dimiliki Elon Musk itu membukan showroom pertamanya di Arab Saudi. Ekspansi ke Riyadh, Jeddah dan Dammam menjadi upaya terakhir setelah menurunnya penjualan global Tesla.
Showroom Tesla di AS menjadi target pihak yang membenci Elon Musk karena efisiensi yang diberikan. Saham Tesla pun terjun bebas dalam beberapa bulan terakhir. ’’Hari ini kami bangga untuk meluncurkan jaringan pertama di Kerajaan ini,’’ ujar Naseem Akbarzada, country manager Tesla Arab Saudi.
Ekspansi tersebut memang cukup aneh mengingat Hybrid pun jarang terlihat di Arab Saudi. Maklum negara tersebut merupakan juragan minyak global. Sebagai eksportir terbesar, harga satu liter BBM hanya mencapai 2.33 riyal (Rp 10.400). Sangat murah dibandingkan daya beli masyarakat di sana.
Namun, negara yang dipimpin Putra Mahkota Muhammad Bin Salman itu merupakan sekutu AS. Pakar ekonomi Arab Saudi, Mohammed Al-Qahtani, menegaskan bahwa langkah tersebut tak boleh berhenti di sini. ’’Kami tak ingin hanya sebuah showroom. Kami ingin pabrik. Jadi kami menjadi bagian produksi bukan hanya konsumsi,’’’ ujarnya kepada Agence France-Presse. (bil)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
