Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 November 2019 | 04.49 WIB

Prediksi Kehadiran 5G di Indonesia, Kominfo: Tunggu Momen yang Tepat

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Teknologi jaringan seluler generasi ke lima alias 5G sudah hadir di beberapa negara dalam banyak kegunaan baik untuk penggunaan personal lewat device smartphone hingga mengawal kebutuhan industri. Kini, adopsi 5G juga perlahan mulai meluas, gaungnya di Indonesia juga sudah mulai terdengar dengan banyaknya topik seputar 5G yang dibicarakan.

Teknologi 5G sendiri memiliki berbagai kelebihan dibanding 4G antara lain kecepatan hingga 50 kali lebih cepat, 10 kali lebih responsif, dan daya konektivitas yang jauh lebih rendah. Berbagai hal ini tersedia berkat kombinasi dari tiga fitur yakni high throughput, latensi yang sangat rendah, dan konektivitas daya yang juga rendah.

Peningkatan kecepatan, latensi rendah, dan konektivitas akan membantu operator telekomunikasi dalam menyelenggarakan koneksi Internet super cepat untuk streaming video berkualitas high-definition (HD), cloud gaming. Konten interaktif berbasis augmented reality dan virtual reality (AR/VR) juga mungkin disajikan dengan mudahnya lewat jaringan 5G. Lalu, kapan Indonesia akan menikmati 5G?

Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Ismail menjelaskan, instansinya sudah mempertimbangkan implementasi 5G di Indonesia. Namun, ada empat hal yang dipertimbangkan pemerintah sebelum menuju 5G, yaitu momentum yang tepat untuk masuk ke pasar, mendorong infrastructure sharing, meminta operator untuk menyiapkan business model yang inovatif dan bermanfaat buat masyarakat, serta terakhir kolaborasi dan perluasan.

“Pemerintah tidak mau buru-buru, tetapi jangan juga telat. Lalu kami juga mendorong infrastructure sharing untuk menekan 40 persen cost karena 5G ini terkait akses jaringan. Sebelum 5G, kami ingin melihat formulasi demand, supply, dan ekosistemnya harus dipertimbangkan secara keseluruhan,” ujar Ismail di acara HUT ke 8, IndoTelko bertajuk 'Embarking 5G, a Pursuit to Digital Destiny', Rabu (27/11).

Ismail menegaskan, pemerintah tidak mau sekadar mengikuti tren 5G yang didorong pemanfaatannya oleh negara-negara produsen dari jaringan telekomunikasi generasi kelima ini.

“Kita nggak mau 5G kalau nggak jadi tuan rumah. Market Indonesia besar, demandnya juga besar. Jangan sampai kita hanya belanja, dimanfaatkan, dan seterusnya tetapi tidak bisa jadi tuan rumah. Jangan hanya berdebat di dalam negeri, tetapi tidak melihat bahwa kita sebenarnya hanya bulan-bulanan global,” tegasnya.

Dalam acara tersebut, hadir juga Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah. Ririek menyatakan, seluruh operator telekomunikasi di Indonesia menyatakan kesiapannya menyediakan jaringan 5G bagi masyarakat maupun industri.

Namun, mengingat investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun jaringan 5G tidak murah, ATSI meminta pemerintah bisa membantu dengan memberikan insentif seperti yang dilakukan di negara lain.

“Kami di ATSI mengharapkan adanya keringanan. Di tahap awal pengembangan misalnya kami diberikan BHP Holiday di 3 tahun pertama implementasi, sehingga kami terbantu membangunnya,” kata Ririek.

Demi mempercepat proses pembangunan jaringan 5G, Ririek juga menilai pemerintah perlu melakukan sinkronisasi regulasi pusat dan daerah. “Operator kita sendiri sudah melakukan trial 5G tahun ini sampai tahun depan. Kami mengharapkan tender spektrum bisa dilakukan 2021, sehingga pembangunannya bisa kita lakukan setelah itu,” tegasnya.

ATSI berharap, Indonesia tidak kehilangan momentum memanfaatkan 5G sehingga keinginan pemerintah melakukan revolusi industri 4.0 bisa terbantu dengan teknologi.

Kehadiran 5G ke Indonesia tak bisa ditolak. Hal tersebut disampaikan oleh Pendiri IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin, "Teknologi itu sebuah keniscayaan melihat pertumbuhan trafik dan penggunaan konten digital dari masyarakat Indonesia. Sekarang posisinya, bagaimana pemerintah memainkan peran agar teknologi diadopsi, tetapi ketahanan dan kedaulatan digital bisa dibangun atas 5G," ungkapnya.

Doni mengharapkan, pemerintah mulai membangun roadmap yang lebih jelas dalam menghadapi 5G sehingga memberikan kepastian bisnis bagi semua ekosistem yaitu Device Network Application (DNA).

"Kalau pasar global, 5G akan komersial di 2020. Indonesia rasanya tak mungkin tahun depan. Tetapi berikanlah roadmap ke semua ekosistem agar kita benar-benar bisa bangun bisnis dan ketahanan industri telekomunikasi yang ideal di era 5G," katanya.

Doni mengingatkan, Indonesia telah masuk ke sebuah tatanan baru seiring jaringan broadband kian masif penetrasinya. "5G nanti akan makin banyak konten yang beragam dan kegunaanya untuk infrastruktur kritikal. Saya harapkan ketika membuat roadmap 5G itu mempertimbangkan ketahanan dan kedaulatan siber nasional," tegasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore