Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 22.30 WIB

Hadapi EV Tiongkok, Honda Kejar Penghematan Rp 168 Triliun hingga 2030

Honda memperkenalkan prototipe kendaraan futuristis 0 Saloon dalam ajang CES 2025 di Las Vegas, Amerika Serikat (CNBC) - Image

Honda memperkenalkan prototipe kendaraan futuristis 0 Saloon dalam ajang CES 2025 di Las Vegas, Amerika Serikat (CNBC)

JawaPos.com - Honda Motor meminta para pemasoknya memangkas biaya secara agresif dalam upaya menghemat pengeluaran hingga 2030. Langkah ini dilakukan ketika produsen otomotif Jepang itu menghadapi tekanan dari kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan Tiongkok yang semakin kompetitif dari sisi harga maupun teknologi.

Tekanan itu terutama datang dari BYD dan produsen EV Tiongkok lainnya yang terus memperluas penjualan di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa. Selain menawarkan harga yang lebih rendah, perusahaan-perusahaan tersebut berkembang pesat dalam teknologi baterai dan perangkat lunak, dua komponen yang semakin menentukan daya saing kendaraan modern.

Dilansir dari CNBC, Kamis (3/9/2026), laporan Reuters berdasarkan dokumen internal Honda dan wawancara dengan dua orang yang mengetahui persoalan tersebut menyebut perusahaan menargetkan penghematan 1,5 triliun yen atau sekitar Rp168 triliun, dengan kurs ¥1 setara Rp112, pada 2030. Honda meminta pemasok memangkas harga secara drastis, meski perusahaan tidak mengonfirmasi target spesifik tersebut.

Dalam pertemuan dengan pemasok utama pada musim semi 2026 di Utsunomiya, utara Tokyo, manajemen Honda memaparkan rencana tersebut dan kemudian memberikan sasaran pengurangan biaya kepada tiap pemasok. Honda juga membuka kemungkinan memperbesar sumber komponen dari pemasok Tiongkok. Efisiensi kini dicari melalui pilihan pemasok, standardisasi, dan asal komponen.

Dokumen yang ditinjau Reuters menunjukkan Honda menargetkan pengurangan biaya hingga 30 persen pada tiga kelompok komponen, yakni komponen cetak dan tempa, komponen kelistrikan, serta komponen untuk kendaraan yang ditentukan perangkat lunak atau software-defined vehicles (SDV). Pemasok langsung atau tier-one diminta meninjau pengadaan material dan memperluas penggunaan komponen terstandar dari pemasok tier-two dan tier-three.

Besarnya target tersebut memunculkan keraguan di kalangan pemasok. Salah satu sumber yang mengetahui persoalan itu mengatakan, "Sasaran pengurangan biaya tersebut sangat besar, dan belum jelas apakah Honda dapat mencapainya." Sumber lain mengatakan sebelum pertemuan pada musim semi, Honda belum memberikan kesan membutuhkan pemangkasan biaya secara seagresif itu.

Namun, tekanan yang dirasakan perusahaan kini berbeda. Menurut sumber tersebut, kondisi Honda seolah "tidak memberi ruang untuk menunda" sehingga pemasok harus bersiap menghadapi tuntutan pengurangan biaya yang lebih besar.

Honda menolak mengomentari target maupun rincian pembicaraan dengan pemasok. Namun, perusahaan mengatakan, "Honda bekerja sama dengan pemasok global untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi biaya," kata perusahaan dalam pernyataannya.

Dorongan efisiensi tersebut berkaitan dengan perubahan strategi setelah investasi kendaraan listrik menekan kinerja Honda. Perusahaan memperkirakan kerugian terkait EV pada akhirnya melampaui USD 12 miliar. Pada Mei, Honda mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak menjadi perusahaan terbuka dan kini lebih berfokus pada kendaraan hibrida bensin-listrik.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore