Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 06.48 WIB

Perang Mobil Listrik Global Berubah Arah, Tiongkok Unggul Lewat EV Murah dan Teknologi Canggih

Ribuan mobil listrik BYD tiba di Pelabuhan Melbourne sebagai bagian dari pengiriman 5.000 unit yang menandai ekspansi agresif produsen EV asal Tiongkok ke pasar global (RNZ) - Image

Ribuan mobil listrik BYD tiba di Pelabuhan Melbourne sebagai bagian dari pengiriman 5.000 unit yang menandai ekspansi agresif produsen EV asal Tiongkok ke pasar global (RNZ)


JawaPos.com
- Pergeseran kekuatan industri otomotif dunia kini berlangsung semakin cepat. Jika selama puluhan tahun Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat menjadi acuan industri mobil global, kini produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) asal Tiongkok tampil sebagai penantang utama melalui kombinasi harga yang lebih terjangkau, teknologi canggih, dan rantai pasok baterai yang nyaris tak tertandingi. 

Tesla milik Elon Musk masih menjadi pelopor penting revolusi kendaraan listrik, tetapi keunggulan kompetitifnya semakin mendapat tekanan. Perubahan itu terlihat jelas ketika kapal pengangkut BYD Zhengzhou merapat di Pelabuhan Melbourne pada Juni lalu dengan membawa 5.000 mobil listrik baru, pengiriman EV tunggal terbesar yang pernah diterima Australia. 

Australia menjadi barometer penting industri otomotif dunia karena tidak lagi memiliki produsen mobil domestik dan relatif minim hambatan perdagangan. Dalam waktu setahun, BYD berhasil memangkas jarak penjualan dengan Toyota. 

Dilansir dari RNZ, Jumat (24/7/2026), perubahan persepsi konsumen terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok terlihat dari pengalaman Riz Akhtar, pendiri lembaga riset Carloop.

"Mobil ini harganya sekitar 40.000 dolar Australia. Senyap, nyaman, dan dipenuhi teknologi," ujarnya. 

Menurutnya, keunggulan nilai yang ditawarkan EV Tiongkok membuat konsumen semakin rasional dalam menentukan pilihan.

"Konsumen tidak bodoh. Mereka tidak akan mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak perlu mereka keluarkan," kata Akhtar.

Perubahan perilaku konsumen juga dipicu melonjaknya biaya energi. Menurut Steve Bragg dari Pitcher Partners, perang Iran mengubah alasan masyarakat membeli kendaraan listrik.

"Lima tahun lalu, kebanyakan orang membeli EV karena alasan lingkungan. Sekarang alasannya adalah keuangan," ujarnya.

Akibatnya, hampir seperempat mobil yang terjual di Australia bulan lalu merupakan EV murni, naik tajam dari hanya 7 persen setahun sebelumnya. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore