Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Mei 2026 | 01.32 WIB

Nvidia Raup Laba Fantastis Rp 1.030 Triliun, Investasi AI Raksasa Teknologi Dunia Masih Melesat

Jensen Huang saat berbicara dalam sebuah konferensi, di tengah melonjaknya dominasi Nvidia dalam industri kecerdasan buatan global (The New York Times) - Image

Jensen Huang saat berbicara dalam sebuah konferensi, di tengah melonjaknya dominasi Nvidia dalam industri kecerdasan buatan global (The New York Times)

JawaPos.com - Gelombang investasi kecerdasan buatan global masih bergerak agresif dan belum menunjukkan tanda perlambatan. Di tengah persaingan raksasa teknologi seperti Meta, Amazon, Google, dan Microsoft membangun infrastruktur pusat data dalam skala besar, Nvidia muncul sebagai perusahaan yang paling diuntungkan dari perlombaan industri AI tersebut.

Perusahaan pembuat cip asal Silicon Valley itu membukukan laba kuartalan sebesar 58,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.030 triliun dengan kurs Rp 17.680 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut melonjak 211 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan Nvidia mencapai 81,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.442 triliun, naik 85 persen secara tahunan. Sebagai perbandingan, laba kuartalan Nvidia tiga tahun lalu masih berada di kisaran 2 miliar dolar AS.

Dilansir dari The New York Times, Kamis (21/5/2026), lonjakan kinerja Nvidia menjadi sinyal kuat bahwa belanja AI perusahaan teknologi global masih terus meningkat. Nvidia bahkan memperkirakan pengeluaran dunia untuk infrastruktur AI dapat mencapai 3 triliun hingga 4 triliun dolar AS pada 2030, naik tajam dari sekitar 1 triliun dolar AS saat ini. Kondisi itu memperkuat posisi Nvidia sebagai pemasok utama cip untuk pengembangan model AI generatif dan pusat data modern.

Chief Executive Officer Nvidia, Jensen Huang, mengatakan percepatan pembangunan pusat data terjadi karena AI mulai memberikan nilai ekonomi nyata bagi perusahaan. "AI sekarang sudah mampu melakukan pekerjaan yang produktif dan bernilai," ujarnya dalam konferensi bersama analis Wall Street. Huang juga menegaskan, "Permintaannya melonjak sangat cepat. Kami membangun kapasitas sebelum momen ini terjadi sehingga ketika AI agentik hadir, Nvidia sudah siap. Dan sekarang, momen itu telah tiba."

Dalam satu dekade terakhir, Nvidia bertransformasi dari produsen cip gim menjadi penguasa lebih dari 90 persen pasar cip AI kelas atas. Posisi itu menguat seiring belanja besar-besaran perusahaan teknologi global untuk membangun pusat data AI.

Belanja masif perusahaan teknologi menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan tersebut. Google, Amazon, Meta, dan Microsoft diketahui telah mengalokasikan sedikitnya 1 triliun dolar AS untuk pembangunan infrastruktur AI. Sebagian besar fasilitas tersebut menggunakan cip Nvidia. Penjualan pusat data kini menjadi motor utama bisnis perusahaan, dengan pendapatan segmen itu melonjak 92 persen menjadi 75 miliar dolar AS pada kuartal terakhir.

Dampak ledakan AI juga mulai dirasakan industri semikonduktor secara lebih luas. AMD dan Intel mencatat kenaikan penjualan cip server yang dapat digunakan untuk sebagian kebutuhan AI. Di sisi lain, perusahaan rintisan pembuat cip AI, Cerebras, resmi melantai di bursa bulan ini. Google bahkan mulai menjual cip AI buatannya sendiri, tensor processing unit (TPU), kepada perusahaan lain.

Manajer portofolio Sand Capital, Daniel Pilling, menilai tingginya permintaan AI membuat perusahaan teknologi berlomba mendapatkan pasokan cip apa pun yang tersedia. "Jika Anda menjalankan bisnis AI, Anda akan mengambil cip apa pun yang bisa didapat karena permintaannya jauh lebih besar dibanding kapasitas yang tersedia," katanya.

Selain memperluas produksi, Nvidia juga mulai memperkuat kendali rantai pasok industri AI global. Perusahaan menghabiskan 95 miliar dolar AS untuk mengamankan pasokan memori, serat optik, dan berbagai komponen penting bagi superkomputer AI mereka. Nvidia juga menanamkan investasi pada Anthropic, salah satu perusahaan AI dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Huang mengatakan Anthropic akan menggunakan lebih banyak cip Nvidia untuk pengembangan model AI mereka.

Meski demikian, tekanan geopolitik masih menjadi tantangan utama perusahaan. Nvidia menghadapi hambatan penjualan cip di Tiongkok setelah pembatasan ekspor teknologi dari pemerintahan Presiden Donald Trump. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore