Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2026 | 01.10 WIB

Microsoft Raup Rp 525 Triliun dari OpenAI, Namun OpenAI Kini Lebih Cepat Kuasai Penjualan Model AI Global

Kantor Microsoft di Redmond, Amerika Serikat / Foto: (The Information) - Image

Kantor Microsoft di Redmond, Amerika Serikat / Foto: (The Information)

JawaPos.com — Dominasi kecerdasan buatan kini memasuki fase baru ketika kemitraan antara raksasa teknologi Microsoft dan OpenAI mulai menunjukkan pola yang tidak lagi sepenuhnya seimbang. Di satu sisi, Microsoft menikmati lonjakan pendapatan besar dari investasinya. Namun di sisi lain, OpenAI justru mulai bergerak lebih cepat dalam menguasai pasar penjualan model AI secara langsung.

Microsoft tercatat meraup sekitar USD 30 miliar atau setara Rp 525,9 triliun (kurs Rp 17.530 per dolar AS) dalam dua tahun terakhir dari ekosistem OpenAI. Nilai ini bahkan lebih dari dua kali lipat investasi awal perusahaan sebesar USD 13 miliar, menandai salah satu keuntungan strategis terbesar dalam kemitraan industri AI global.

Dilansir dari The Information, Rabu (13/5/2026), data dari laporan perusahaan dan dokumen internal menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak hanya memperkuat bisnis cloud Microsoft, tetapi juga menjadikannya salah satu pemain paling diuntungkan dalam lonjakan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan global.

Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari skala operasi OpenAI yang sangat bergantung pada infrastruktur cloud Microsoft. OpenAI tercatat menghabiskan sekitar USD 23 miliar untuk penyewaan server Azure antara 2023 hingga 2025. Selain itu, kontribusi datang dari produk AI terintegrasi seperti Office 365 Copilot dan GitHub Copilot yang memperluas monetisasi teknologi OpenAI di dalam ekosistem Microsoft.

Namun, struktur kerja sama mulai bergeser. Pada April tahun ini, Microsoft tidak lagi memiliki hak eksklusif untuk menjual model GPT milik OpenAI. Perubahan ini membuka ruang kompetisi langsung, dan dalam perkembangannya OpenAI justru mulai melampaui Microsoft dalam penjualan model AI ke pelanggan bisnis.

Data internal yang dikutip The Information menunjukkan bahwa pada 2025, OpenAI membukukan hampir USD 2 miliar dari penjualan langsung, sementara Microsoft mencatat sekitar USD 1,5 miliar dari distribusi model yang sama melalui Azure.

Perubahan ini menjadi titik balik penting dalam dinamika kemitraan, di tengah meningkatnya ketegangan hukum yang turut melibatkan tokoh teknologi Elon Musk. Dalam persidangan federal di Oakland, Musk menggugat OpenAI dan Microsoft dengan tuntutan sebesar USD 150 miliar atau sekitar Rp 2.629,5 triliun, dengan tuduhan bahwa keduanya menyimpang dari misi awal nirlaba OpenAI.

CEO Microsoft Satya Nadella dalam kesaksiannya menyebut kemitraan ini sebagai “risiko yang diperhitungkan”, seraya mengakui bahwa perusahaan sempat memprioritaskan kebutuhan komputasi OpenAI di atas sejumlah proyek internal untuk menciptakan “kemitraan yang saling menguntungkan”.

Di sisi OpenAI, mantan Chief Scientist Ilya Sutskever dalam persidangan menyebut adanya “pola kebohongan” yang ditujukan kepada CEO Sam Altman, meski Altman membantah seluruh tuduhan tersebut saat memberikan kesaksian di pengadilan.

Sementara itu, tekanan di pasar keuangan mulai terlihat dengan investor menyoroti meningkatnya biaya pembangunan pusat data serta kebutuhan besar akan chip dan semikonduktor untuk mendukung model AI berskala besar, yang turut menekan kinerja saham Microsoft yang tercatat turun sekitar 9 persen dalam satu tahun terakhir dan melemah 16 persen sepanjang tahun berjalan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore