
Diskusi di forum
JawaPos.com - Banyak perusahaan di Indonesia dinilai belum cukup adaptif dalam menghadapi percepatan disrupsi teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Organisasi yang ada disebut masih memfokuskan energi pada bertahan dari risiko, alih-alih memanfaatkan momentum untuk bertumbuh.
Kesimpulan itu mengemuka dalam forum 'Navigating Disruption for Accelerated Revenue & Optimized Performance' yang berlangsung di Jakarta dan dihadiri puluhan pemimpin bisnis lintas industri pada Kamis (27/11).
Para pembicara menilai bahwa disrupsi tidak lagi sebatas gangguan eksternal, melainkan realitas baru yang menentukan kecepatan eksekusi strategi, kualitas pengambilan keputusan, hingga arah pertumbuhan jangka panjang. Namun di lapangan, respons perusahaan dinilai belum cukup gesit.
Dalam forum tersebut, para pemimpin industri menggarisbawahi lima tantangan utama yang saat ini menghambat transformasi bisnis di Indonesia mulai dari mindset bertahan, bukan bertumbuh hingga budaya kerja birokratis, yang menghambat kolaborasi dan memperlambat inovasi. Chief Operating Officer Mekari, Arvy Egadipoetra, menegaskan perlunya perubahan cara pandang terhadap manajemen SDM.
"Dengan transformasi HR yang didorong data dan AI, peran HR bergerak dari administrasi menjadi strategic business partner yang memungkinkan perusahaan merespons disrupsi dengan cepat, tetap agile, dan tumbuh berkelanjutan," ujar Arvy di forum tersebut.
Transformasi digital, khususnya dalam pengelolaan SDM, dinilai semakin krusial. Tren global menunjukkan HR Analytics, perencanaan tenaga kerja otomatis, hingga insight produktivitas berbasis AI menjadi fondasi baru bagi organisasi modern.
Beberapa riset internasional juga memperkuat urgensi tersebut. Laporan Deloitte menyebut hingga 80 persen tugas administrasi HR seperti payroll, pajak, dan manajemen absensi berpotensi terotomasi. Sementara analitik prediktif terbukti meningkatkan akurasi retensi dan efektivitas rekrutmen.
Plt. Direktur Aplikasi Kemenparekraf RI, Wahyu Wicaksono, mengatakan bahwa pengelolaan talenta yang sehat kini menjadi prasyarat pertumbuhan sektor apa pun, termasuk ekonomi kreatif. "Ekonomi kreatif tidak akan tumbuh hanya dengan ide. Ia membutuhkan eksekusi yang disiplin dan manajemen talenta yang kuat. Teknologi sangat penting, bukan hanya untuk produktivitas, tetapi untuk menjaga stabilitas serta loyalitas tenaga kerja di tengah perubahan cepat," ucapnya dalam kesempatan yang sama.
Selain produktivitas, isu kesejahteraan SDM jangka panjang turut menjadi perhatian. Kemitraan antara penyedia platform manajemen talenta dan institusi pengelola dana pensiun dinilai dapat memperkuat perlindungan finansial bagi karyawan sekaligus membantu perusahaan mempertahankan tenaga kerja berkualitas.
Managing Partner KKA GD, I Gde Eka Sarmaja, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam program pensiun. "Program pensiun yang baik itu harus memenuhi tiga indikator: kecukupan manfaat, biaya yang terjangkau, dan keberlanjutan. Kalau salah satu tidak seimbang, pekerja dan perusahaan sama-sama berisiko," katanya.
Strategic Leader & Entrepreneur Sandiaga Uno juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang adaptif. "Jika kita memiliki kepemimpinan yang melihat disrupsi sebagai bagian dari peningkatan, maka disrupsi justru menjadi pemicu inovasi dan peluang baru dari para talenta kita," tutur Sandiaga yang pernah duduk di bangku pemerintahan.
Tantangan lain yang disorot dalam forum tersebut adalah menurunnya tingkat retensi karyawan di Indonesia. Berdasarkan data internal industri, sekitar 65 persen karyawan hanya bertahan 1–2 tahun di sebuah perusahaan. Namun implementasi sistem manajemen kinerja yang terstruktur terbukti dapat meningkatkan retensi hingga 50 persen.
Konsistensi feedback, evaluasi berbasis data, serta penyesuaian peran dianggap berpengaruh besar terhadap loyalitas dan produktivitas karyawan. Para pembicara sepakat bahwa masa depan organisasi Indonesia tidak akan ditentukan oleh ukuran perusahaan, melainkan oleh kecepatan adaptasi dan konsistensi eksekusi.
Perusahaan yang mampu memanfaatkan data, membangun budaya kolaboratif, serta menempatkan manusia sebagai pusat strategi dinilai akan lebih siap bersaing di tengah tekanan disrupsi. "Perusahaan unggul bukan yang paling besar, tetapi yang paling cepat beradaptasi," demikian rangkuman diskusi para pemimpin dalam forum tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
