Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Februari 2026 | 22.22 WIB

Kerja Digital Makin Ribet, Lark Ungkap Masalah Utamanya Bukan Teknologi tapi Hilangnya Konteks

Jumpa pers Lark di Jakarta, Kamis (10/2). (Rian Alfianto/JawaPos.com) - Image

Jumpa pers Lark di Jakarta, Kamis (10/2). (Rian Alfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com - Transformasi digital yang kian masif justru menghadirkan persoalan baru di lingkungan kerja. Bukan kekurangan teknologi, melainkan terlalu banyaknya aplikasi yang digunakan secara terpisah.

Diskusi berlangsung di aplikasi chat, keputusan tersimpan di email, sementara eksekusi dilakukan di platform lain. Akibatnya, konteks kerja mudah terputus dan koordinasi menjadi semakin rumit.

Kondisi ini banyak ditemui di perusahaan dengan skala tim besar dan kerja lintas fungsi. Waktu karyawan pun kerap habis untuk berpindah aplikasi dan menyelaraskan informasi, alih-alih fokus menyelesaikan pekerjaan utama.

General Manager APAC Lark, Mark Dembitz, menilai produktivitas sangat bergantung pada sistem kerja yang mampu menyatukan berbagai proses dalam satu alur.

“Produktivitas lahir ketika sistem kerja mampu menyatukan orang, informasi, dan proses dalam satu alur yang utuh dan berkesinambungan,” ujarnya ditemui di media gathering Lark di Jakarta, Selasa (10/2).

Menurut Dembitz, pendekatan kerja terintegrasi membuat kolaborasi dan pengambilan keputusan dapat berjalan lebih cepat karena konteks percakapan tetap terjaga hingga tahap eksekusi. Model kerja ini juga mengurangi risiko miskomunikasi yang sering muncul akibat penggunaan banyak platform terpisah.

Selain persoalan konteks, minimnya visibilitas progres kerja juga menjadi tantangan lain, terutama bagi pimpinan. Tanpa gambaran real-time, manajemen sering kali harus mengandalkan laporan manual yang tidak selalu mencerminkan kondisi lapangan.

“Lark hadir untuk membantu perusahaan membangun cara kerja yang lebih terhubung dan efisien, sehingga kolaborasi dan pengambilan keputusan di dalam perusahaan dapat berjalan dengan lebih cepat,” kata Dembitz.

Tren lain yang ikut menguat adalah kebutuhan otomatisasi proses kerja tanpa sistem teknis yang rumit. Perusahaan mulai mencari solusi yang memungkinkan alur kerja seperti persetujuan, administrasi, hingga koordinasi tim berjalan lebih sederhana dan terdokumentasi dengan baik.

Di sisi biaya, konsolidasi alat kerja juga menjadi pertimbangan penting. Penyatuan berbagai fungsi dalam satu platform dinilai mampu menekan pengeluaran software sekaligus mempermudah adaptasi karyawan terhadap sistem kerja baru.

Di Indonesia, pendekatan kolaborasi terpadu ini mulai diadopsi oleh berbagai perusahaan lintas sektor, mulai dari teknologi, ritel, hingga F&B. Perkembangan ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak lagi soal menambah aplikasi, melainkan menyederhanakan cara kerja agar tetap relevan dan efisien di tengah kompleksitas bisnis.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore