
Jumpa pers Lark di Jakarta, Kamis (10/2). (Rian Alfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Transformasi digital yang kian masif justru menghadirkan persoalan baru di lingkungan kerja. Bukan kekurangan teknologi, melainkan terlalu banyaknya aplikasi yang digunakan secara terpisah.
Diskusi berlangsung di aplikasi chat, keputusan tersimpan di email, sementara eksekusi dilakukan di platform lain. Akibatnya, konteks kerja mudah terputus dan koordinasi menjadi semakin rumit.
Kondisi ini banyak ditemui di perusahaan dengan skala tim besar dan kerja lintas fungsi. Waktu karyawan pun kerap habis untuk berpindah aplikasi dan menyelaraskan informasi, alih-alih fokus menyelesaikan pekerjaan utama.
General Manager APAC Lark, Mark Dembitz, menilai produktivitas sangat bergantung pada sistem kerja yang mampu menyatukan berbagai proses dalam satu alur.
“Produktivitas lahir ketika sistem kerja mampu menyatukan orang, informasi, dan proses dalam satu alur yang utuh dan berkesinambungan,” ujarnya ditemui di media gathering Lark di Jakarta, Selasa (10/2).
Menurut Dembitz, pendekatan kerja terintegrasi membuat kolaborasi dan pengambilan keputusan dapat berjalan lebih cepat karena konteks percakapan tetap terjaga hingga tahap eksekusi. Model kerja ini juga mengurangi risiko miskomunikasi yang sering muncul akibat penggunaan banyak platform terpisah.
Selain persoalan konteks, minimnya visibilitas progres kerja juga menjadi tantangan lain, terutama bagi pimpinan. Tanpa gambaran real-time, manajemen sering kali harus mengandalkan laporan manual yang tidak selalu mencerminkan kondisi lapangan.
“Lark hadir untuk membantu perusahaan membangun cara kerja yang lebih terhubung dan efisien, sehingga kolaborasi dan pengambilan keputusan di dalam perusahaan dapat berjalan dengan lebih cepat,” kata Dembitz.
Tren lain yang ikut menguat adalah kebutuhan otomatisasi proses kerja tanpa sistem teknis yang rumit. Perusahaan mulai mencari solusi yang memungkinkan alur kerja seperti persetujuan, administrasi, hingga koordinasi tim berjalan lebih sederhana dan terdokumentasi dengan baik.
Di sisi biaya, konsolidasi alat kerja juga menjadi pertimbangan penting. Penyatuan berbagai fungsi dalam satu platform dinilai mampu menekan pengeluaran software sekaligus mempermudah adaptasi karyawan terhadap sistem kerja baru.
Di Indonesia, pendekatan kolaborasi terpadu ini mulai diadopsi oleh berbagai perusahaan lintas sektor, mulai dari teknologi, ritel, hingga F&B. Perkembangan ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak lagi soal menambah aplikasi, melainkan menyederhanakan cara kerja agar tetap relevan dan efisien di tengah kompleksitas bisnis.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
